Inflasi Inti Zona Euro Naik, ECB Makin Waspada
Tekanan inflasi dasar di zona euro tercatat lebih kuat dari perkiraan awal pada Mei, memperkuat kekhawatiran European Central Bank bahwa risiko inflasi belum sepenuhnya mereda meski ada perkembangan menuju kesepakatan damai di Timur Tengah.
Eurostat melaporkan inflasi inti pada Rabu (17/6), yang mengecualikan komponen energi dan makanan, naik menjadi 2,6% dari 2,2% pada bulan sebelumnya. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan estimasi awal sebesar 2,5%, sementara inflasi utama dikonfirmasi berada di 3,2%.
Revisi ini penting karena menunjukkan tekanan harga yang lebih dalam masih bertahan di luar komponen energi dan pangan. Dalam konteks kebijakan moneter, inflasi inti menjadi indikator utama bagi ECB untuk menilai apakah tekanan harga mulai menyebar ke sektor yang lebih luas atau tetap terkendali.
Pejabat ECB sebelumnya telah menekankan bahwa dampak perang Iran terhadap inflasi tidak akan cepat hilang meski proses perdamaian mulai berjalan. Gangguan energi dan kenaikan biaya akibat konflik dapat membutuhkan waktu sebelum sepenuhnya hilang dari rantai harga, terutama jika perusahaan masih meneruskan sebagian tekanan biaya kepada konsumen.
Anggota Executive Board ECB Isabel Schnabel pada akhir Mei juga menyoroti bahwa melihat inflasi utama saja dapat menyesatkan setelah terjadi guncangan harga energi. Pernyataan tersebut sejalan dengan fokus bank sentral pada ukuran inflasi dasar untuk membaca tren harga yang lebih persisten.
Bagi pasar, data ini dapat membatasi ruang ECB untuk memberi sinyal kebijakan yang lebih longgar dalam waktu dekat. Inflasi inti yang lebih tinggi dari estimasi awal memperkuat alasan bagi pembuat kebijakan untuk tetap berhati-hati, terutama jika tekanan harga akibat konflik Timur Tengah belum sepenuhnya terserap.
Fokus berikutnya tertuju pada data inflasi lanjutan, dinamika harga energi setelah perkembangan damai di Timur Tengah, serta komunikasi ECB mengenai risiko inflasi inti. Selama tekanan harga dasar masih bertahan, pasar cenderung menilai arah kebijakan ECB tetap bergantung pada data dan belum sepenuhnya bebas dari risiko pengetatan.(arl)
Sumber : Newsmaker.id