Dolar Stabil Kuat Masih Didukung Permintaan Safe haven
Dolar AS bertahan kuat terhadap mata uang utama pada Kamis (27/3) ketika pasar mulai kecewa karena prospek de-eskalasi Timur Tengah memudar, memicu kembali permintaan aset safe-haven.
Sentimen risk-off menguat seiring saham melemah dan harga minyak naik, sementara Menteri Luar Negeri Iran mengatakan negaranya meninjau proposal AS untuk mengakhiri perang tetapi tidak berniat menggelar pembicaraan.
Kenaikan klaim pengangguran AS yang tipis memperkuat narasi pasar tenaga kerja masih stabil, memberi The Fed ruang untuk menahan suku bunga sambil memantau risiko inflasi terkait perang. Di pasar valas, euro turun 0,14% ke US$1,1542 dan pound melemah 0,09% ke US$1,3353, sementara dolar naik 0,05% terhadap yen ke 159,54.
Harga minyak naik sekitar 4,16% ke US$106,47/barel, memperbesar kekhawatiran bahwa hambatan arus di Selat Hormuz bisa berkepanjangan dan mendorong inflasi kembali naik. Karena AS merupakan eksportir energi bersih, dolar dinilai relatif lebih terlindungi dibanding zona euro, Inggris, atau Jepang. Pasar juga mem-price in pengetatan yang lebih agresif di Eropa, dengan tiga kenaikan suku bunga ECB dinilai sudah sepenuhnya diperhitungkan, dan BoE mendekati level tersebut.
Dari bank sentral, anggota dewan ECB Joachim Nagel mengatakan ECB memiliki “opsi” untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya jika perang memicu lonjakan inflasi. Namun Wakil Gubernur BoE Sarah Breeden menilai risiko efek putaran kedua inflasi dari energi kali ini lebih kecil dibanding shock 2022, karena pasar tenaga kerja yang lebih lemah. Secara keseluruhan, pasar menilai latar kebijakan global kembali hawkish, termasuk repricing The Fed menuju sekitar 10 bps pengetatan tahun ini.
Terhadap yuan offshore, dolar naik 0,15% ke 6,915. Trump juga mengatakan akan bertemu Presiden China Xi Jinping pada 14–15 Mei setelah jadwal sebelumnya tertunda akibat perang Iran.(yds)
Sumber: Newsmaker.id