• Fri, Mar 13, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

13 March 2026 03:29  |

USD Menguat, Reli Minyak dan Risiko Hormuz Dorong Permintaan Safe Haven

Dolar AS menguat pada Kamis (12/3), yang tetap menjadi aset lindung nilai utama ketika harga minyak kembali melonjak dan memicu arus pergerakan investor memindahkan dana dari aset berisiko ke aset yang dianggap paling amansaat situasi tidak pasti (flight to safety).

 Indeks dolar (DXY) naik 0,4% ke 99,64 pada 13:47 wakttu timur AS, sementara EUR/USD turun 0,4% ke 1,1522 dan GBP/USD melemah 0,4% ke 1,3354. Pelaku pasar menilai belum ada sinyal kuat perang AS/Israel-Iran akan segera mereda, mendorong aksi de-risking di pasar valuta.

Kenaikan dolar berjalan seiring lonjakan minyak yang kembali menembus US$100 per barel, di tengah kekhawatiran penutupan berkepanjangan Selat Hormuz akan mengganggu arus pasokan energi global. Media resmi Iran mengutip pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang menyatakan Selat Hormuz harus tetap ditutup. Ketegangan juga terlihat dari laporan serangan terhadap kapal dagang di sekitar selat, serta langkah Irak dan Oman menutup terminal minyak. Meski AS dan anggota IEA sepakat melepas cadangan minyak dalam jumlah besar, pasar menilai langkah itu belum cukup meredakan keketatan pasokan dan premi risiko.

Penopang utama ke dolar adalah inflasi dan suku bunga: minyak yang lebih mahal berpotensi menghidupkan kembali tekanan inflasi global, yang dapat membuat bank sentral—termasuk The Fed—lebih berhati-hati memangkas suku bunga. Prospek suku bunga yang bertahan tinggi cenderung menarik aliran modal ke aset dolar dan memperkuat greenback. Indeks dolar disebut telah menguat sejak konflik Iran pecah, dari area sedikit di atas 97 sebelum serangan terbaru.

Di Asia, mata uang regional melemah secara luas karena ketergantungan kawasan pada impor minyak dan gas melalui Hormuz meningkatkan sensitivitas terhadap guncangan energi. Dari sisi data, CPI AS pada Rabu menunjukkan inflasi Februari relatif stabil, namun angka itu belum menangkap dampak kenaikan minyak akibat perang. Fokus berikutnya adalah rilis PCE—indikator inflasi pilihan The Fed—yang berpotensi membentuk ekspektasi suku bunga jangka lebih panjang.

Yang dipantau pasar: perkembangan keamanan pelayaran di Hormuz, arah harga minyak pasca langkah cadangan strategis, serta sinyal The Fed melalui PCE terkait apakah risiko inflasi energi mulai menggeser kembali jalur kebijakan moneter.(yds)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

US DOLLAR

Dollar Sedikit Melemah Setelah Pulih

Dolar memangkas kenaikan hari Senin (12/05), dengan para pedagang tidak yakin bahwa lonjakannya baru-baru ini di balik mereda...

13 May 2025 15:52
US DOLLAR

Dolar Nunggu Sinyal The Fed

Indeks dolar (DXY) bergerak stabil di atas 98 pada Rabu, tapi masih bertahan dekat level terendah dalam lebih dari dua bulan....

17 December 2025 09:14
US DOLLAR

Dolar AS Tutup Tahun Terbaik Sejak 2015 dengan Bias Bullish

Dolar membukukan penurunan moderat pada hari terakhir tahun ini, yang terbaik dalam hampir satu dekade, karena opsi jangka pa...

31 December 2024 17:05
US DOLLAR

Dolar Terus Turun

Indeks dolar jatuh ke 100,3 pada hari Rabu (14/5), semakin merosot dari level tertinggi satu bulan yang dicapai pada hari Sen...

14 May 2025 17:16
BIAS23.com NM23 Ai