Dolar Terpukul, “Sell America” Balik Lagi
Dolar AS turun tajam pada perdagangan Selasa (20/1), dipicu kombinasi sentimen geopolitik dan kekhawatiran pasar atas arah kebijakan AS. Ancaman tarif dari Gedung Putih terhadap sejumlah negara Eropa—yang terkait dengan isu Greenland—mendorong investor masuk mode “risk-off” dan mengurangi eksposur ke aset AS. Tekanan tidak hanya terjadi di pasar valuta asing, tetapi juga terasa di saham dan obligasi pemerintah AS, sehingga narasi “sell America” kembali ramai dibicarakan.
Di pasar mata uang, pelemahan dolar tercermin pada indeks dolar yang turun ke sekitar 98,84. Euro dan poundsterling bergerak naik, masing-masing menguat ke sekitar $1,1663 dan $1,3435. Pergerakan ini menunjukkan sebagian arus dana beralih ke mata uang utama lain, seiring pelaku pasar menunggu respons Eropa dan menilai risiko eskalasi perang dagang makin terbuka.
Sementara itu di Asia, volatilitas meningkat setelah pasar obligasi Jepang bergejolak. Pengumuman pemilu cepat 8 Februari dan agenda pelonggaran fiskal dari Perdana Menteri Sanae Takaichi memicu kekhawatiran baru soal kesehatan fiskal Jepang. Yen cenderung melemah, dan dolar bergerak di kisaran 158,45 yen. Investor menilai kebijakan fiskal yang lebih longgar bisa memperpanjang tekanan di obligasi Jepang, yang kemudian ikut memengaruhi sentimen global karena pasar obligasi merupakan “jangkar” untuk valuasi aset lain.
Di sisi lain, aliran dana aman tetap terlihat. Franc Swiss menguat dan mendorong USD/CHF ke sekitar 0,7902, mencerminkan permintaan terhadap safe haven saat ketidakpastian naik. Terhadap yuan offshore, dolar relatif stabil di sekitar 6,9548, sejalan dengan ekspektasi pasar setelah PBOC mempertahankan suku bunga pinjaman acuan. Mata uang komoditas juga ikut menguat, dengan AUD/USD sekitar 0,6732–0,6741 dan NZD/USD sekitar 0,5833–0,5835, mengikuti pelemahan dolar dan pergeseran selera risiko yang cepat berubah. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id