Emas Naik Tipis, Risiko Inflasi Menahan Laju
Harga emas naik pada perdagangan Jumat, namun masih berada di jalur penurunan mingguan pertama dalam lebih dari satu bulan. Penguatan dolar AS dan kenaikannya imbal hasil obligasi AS menjadi faktor utama yang menekan emas, meskipun premi risiko geopolitik dari perang di Timur Tengah tetap memberikan dukungan.
Bullion sempat menguat hingga sekitar 1,2% dan menembus $5.100 per ons, tetapi secara mingguan masih turun hampir 3%. Penguatan dolar AS pekan ini sekitar 1,3% membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli non-USD, sementara penurunan harga obligasi AS mendorong kenaikan imbal hasil ke level tertinggi dalam beberapa pekan, menambah tekanan pada aset yang tidak memberikan hasil yang tidak seimbang seperti emas.
Dinamika ini memicu beredarnya harga energi akibat perang AS–Israel dengan Iran, yang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Pasar swap kini hanya memperhitungkan 34 basis poin pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun, turun sekitar 60 basis poin pada akhir pekan lalu—perubahan yang memperkuat dolar dan menahan emas.
Di sisi geopolitik, pasar tetap gelisah karena konflik memasuki hari ketujuh. Iran melaporkan peluncuran serangan rudal dan drone ke sejumlah titik di kawasan Teluk, termasuk insiden yang mengenai kilang di Bahrain, sementara Israel melanjutkan serangan udara ke Teheran dan AS menangguhkan operasi di kedutaannya di Kuwait. Gangguan keamanan juga memperbesar risiko pada jalur strategi energi, termasuk Selat Hormuz yang dilaporkan sangat terganggu.
Di tengah gejolak, aksi jual luas di pasar saham global membuat sebagian investor menggunakan emas sebagai sumber likuiditas untuk memenuhi kebutuhan margin atau menutup posisi lain. Pada saat yang sama, muncul kekhawatiran baru terkait popularitas institusional, setelah beredar kabar beberapa bank sentral dapat melepaskan sebagian cadangan emas. Contohnya, bank sentral Polandia—yang dilaporkan sebagai salah satu pembeli terbesar—disebut mempertimbangkan penjualan emas untuk membantu pembiayaan belanja perlindungan.
Pada perdagangan terakhir, spot emas naik sekitar 1% menjadi $5.130,42 per ons pada sesi Asia. Perak juga menguat sekitar 1,9% menjadi $83,80, sementara platinum dan paladium juga mencatat kenaikan. Ke depan, arah emas akan ditentukan oleh tarik-menarik antara dukungan safe haven dari geopolitik dan tekanan makro dari dolar kuat, imbal hasil tinggi, serta kekhawatiran inflasi energi.(asd)
Sumber : Newsmaker.id