• Thu, Jan 15, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Indonesia News Portal for Traders | Financial & Business Updates

15 January 2026 03:32  |

Yen Kembali Bernapas, Dolar Kehilangan Momentum

Yen Jepang memantul dari level terlemahnya dalam sekitar 18 bulan pada Rabu (14/1), setelah sejumlah pejabat Tokyo kembali melontarkan peringatan potensi intervensi untuk menahan pelemahan mata uang. Di saat yang sama, dolar AS sedikit melemah terhadap euro karena pelaku pasar masih menilai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Sebelumnya, yen tertekan oleh kekhawatiran Jepang akan masuk fase kebijakan fiskal dan moneter yang lebih longgar. Spekulasi bahwa PM Sanae Takaichi bisa menggelar pemilu dadakan ikut menambah tekanan, karena langkah itu dinilai berpotensi menunda persetujuan parlemen atas aturan yang memberi ruang penerbitan obligasi penutup defisit.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan pemerintah siap mengambil “tindakan yang tepat” terhadap pergerakan valas yang berlebihan—tanpa menutup opsi apa pun. Peringatan ini membuat pasar kembali berhitung soal risiko intervensi, sehingga yen sempat menguat meski sentimen fundamentalnya masih rapuh.

Sebagian analis menilai pelemahan yen sudah mulai “berlebihan”. Secara teknikal, muncul sinyal puncak setelah yen mencetak level ekstrem, tetapi dari sisi fundamental ruang pelemahan tetap ada bila USD/JPY mampu menembus 160—dengan catatan, ancaman intervensi membuat arah pasar jadi dua sisi (bisa memantul cepat kapan saja).

Pada Rabu, yen menguat sekitar 0,4% ke kisaran 158,43 per dolar, setelah sempat menyentuh 159,45 (terlemah sejak Juli 2024). Indeks dolar bergerak sedikit turun.

Di AS, dolar masih kesulitan melanjutkan reli akhir Desember karena pasar menilai The Fed kemungkinan menahan suku bunga untuk beberapa bulan ke depan. Dolar tetap mendapat “bantalan” dari risiko geopolitik, tetapi dibayangi isu independensi Fed terkait penyelidikan Departemen Kehakiman atas Ketua Fed Jerome Powell. Meski begitu, kekhawatiran soal independensi Fed mulai mereda dalam beberapa hari terakhir seiring adanya penolakan politik di internal Partai Republik dan dukungan dari pejabat bank sentral.

Pelaku pasar juga menunggu putusan Mahkamah Agung terkait legalitas tarif darurat Trump—yang bisa keluar secepat Rabu—karena hasilnya dapat memengaruhi arah kebijakan dagang AS. Sementara itu, data AS terbaru menunjukkan harga produsen (PPI) naik tipis pada November dan penjualan ritel meningkat lebih kuat dari perkiraan, namun dampaknya ke dolar dinilai terbatas.(yds)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

US DOLLAR

Dollar Sedikit Melemah Setelah Pulih

Dolar memangkas kenaikan hari Senin (12/05), dengan para pedagang tidak yakin bahwa lonjakannya baru-baru ini di balik mereda...

13 May 2025 15:52
US DOLLAR

Dolar Nunggu Sinyal The Fed

Indeks dolar (DXY) bergerak stabil di atas 98 pada Rabu, tapi masih bertahan dekat level terendah dalam lebih dari dua bulan....

17 December 2025 09:14
US DOLLAR

Dolar AS Tutup Tahun Terbaik Sejak 2015 dengan Bias Bullish

Dolar membukukan penurunan moderat pada hari terakhir tahun ini, yang terbaik dalam hampir satu dekade, karena opsi jangka pa...

31 December 2024 17:05
US DOLLAR

Dolar Terus Turun

Indeks dolar jatuh ke 100,3 pada hari Rabu (14/5), semakin merosot dari level tertinggi satu bulan yang dicapai pada hari Sen...

14 May 2025 17:16
BIAS23.com NM23 Ai