Emas Rebound, Risiko Perang Masih Membayangi
Harga emas menguat pada Rabu (4/3), memulihkan sebagian kerugian sesi sebelumnya ketika pembeli masuk saat harga turun pada hari kelima perang di Timur Tengah. Spot gold naik 1,2% ke US$5.152,09 per ons pada 10:09 pagi waktu New York, sementara perak naik 2,3% ke US$83,92 setelah jatuh lebih dari 8% sehari sebelumnya.
Emas sempat naik hingga 2,3%, merebut kembali posisi setelah reli empat hari beruntun terhenti pada Selasa. Pasar menyeimbangkan premi risiko geopolitik dengan faktor penahan dari sisi makro, termasuk dolar yang sempat menguat di awal pekan sebelum sedikit melemah.
Kenaikan harga energi akibat konflik mendorong pelaku pasar mengurangi taruhan pelonggaran moneter, sebuah dinamika yang umumnya menjadi hambatan bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil. Pada saat yang sama, aksi jual luas di pasar saham Selasa memaksa sebagian investor melikuidasi posisi emas untuk memenuhi kebutuhan margin di bagian portofolio lain, menambah volatilitas jangka pendek.
BMO Capital Markets menilai pelemahan emas pada Selasa “menimbulkan pertanyaan” setelah awalnya diuntungkan oleh permintaan safe haven, dengan tekanan datang dari lonjakan yield obligasi karena kekhawatiran inflasi, dolar yang kuat, serta likuidasi paksa. Data CFTC juga menunjukkan posisi net-long manajer investasi turun sejak akhir Januari mendekati level terendah satu dekade, yang dinilai dapat membatasi ruang penurunan lebih lanjut.
Ke depan, arah emas ditentukan tarik-menarik antara premi risiko perang dan jalur suku bunga. Ketika inflasi energi berisiko menahan pemangkasan suku bunga lebih lama, pasar juga mencermati apakah stabilisasi kondisi ekstrem dapat mengurangi kebutuhan lindung nilai. Fokus tetap pada dinamika konflik, pergerakan yield dan dolar, serta perkembangan arus energi melalui Selat Hormuz yang memengaruhi ekspektasi inflasi global. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id