Dolar Menuju Pekan Terburuk dalam Empat Bulan
Dolar AS sedang menuju kinerja mingguan terburuknya sejak akhir Juli pada hari Jumat (28/11), seiring para trader meningkatkan taruhan atas pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut dari Federal Reserve bulan depan, sementara likuiditas menipis karena libur Thanksgiving di Amerika Serikat.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, terakhir naik 0,1% di level 99,624, sedikit memulihkan posisi setelah lima hari penurunan yang menyeretnya ke kerugian mingguan terburuk sejak 21 Juli.
Kontrak berjangka Fed funds AS saat ini mencerminkan peluang tersirat sebesar 87% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan Federal Reserve berikutnya pada 10 Desember, dibandingkan dengan peluang 39% sepekan sebelumnya, menurut alat FedWatch milik CME Group.
Imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun terakhir naik 0,8 basis poin ke 4,0037%, bangkit setelah lima hari penurunan yang sempat membuat level psikologis 4% ditembus dua kali secara singkat.
Di Asia, yen Jepang bergerak naik-turun antara menguat dan melemah setelah periode penurunan sebelumnya.
Mata uang tersebut terakhir diperdagangkan melemah 0,1% di level 156,385 per dolar, setelah data pasar tenaga kerja dan inflasi memperkuat argumen untuk pengetatan kebijakan moneter di ekonomi terbesar kedua Asia itu, di tengah latar belakang pelemahan yen yang berkepanjangan dan telah memicu kemungkinan intervensi dari Kementerian Keuangan.
Yen sempat menguat sebentar setelah muncul kabar bahwa harga konsumen di Tokyo naik 2,8% pada November, sedikit lebih cepat dari perkiraan ekonom dan melampaui target 2% Bank of Japan.
“Dengan pasar tenaga kerja yang masih ketat dan inflasi yang mengecualikan makanan segar dan energi diperkirakan akan tetap berada di atas 3% untuk saat ini, Bank of Japan akan melanjutkan siklus pengetatannya dalam beberapa bulan mendatang,” tulis analis dari Capital Economics dalam sebuah laporan riset. “Intinya, argumen untuk kebijakan moneter yang lebih ketat masih tetap kuat.”
Yen berada di jalur pelemahan untuk bulan ketiga berturut-turut, sementara Perdana Menteri Sanae Takaichi menyiapkan paket stimulus senilai 21,3 triliun yen (US$135,40 miliar), dan Bank of Japan menahan diri untuk tidak menaikkan suku bunga meskipun inflasi berada di atas target.
Euro berada di level US$1,1600, nyaris tidak berubah sejauh ini di sesi Asia, setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Kamis mengatakan bahwa delegasi Ukraina dan Amerika Serikat akan bertemu pekan ini untuk merumuskan formula yang dibahas dalam perundingan di Jenewa guna mengakhiri perang dengan Rusia dan menyediakan jaminan keamanan bagi Kyiv.
Poundsterling melemah 0,1% ke US$1,323 sejauh hari itu, namun masih mengarah pada kinerja mingguan terbaik sejak awal Agustus, setelah Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves pada Rabu mengungkapkan rencana kenaikan pajak sebesar 26 miliar pound (US$34 miliar).
Rachel Reeves pada Kamis membela diri dari kritik terhadap rencana belanjanya, yang akan membiayai tambahan belanja kesejahteraan dengan cara menaikkan beban pajak nasional ke level tertinggi sejak Perang Dunia II.
Dolar Australia berada di US$0,6536, naik 0,1% di awal perdagangan, setelah data menunjukkan kredit sektor swasta meningkat 0,7% pada Oktober dibanding bulan sebelumnya, sedikit lebih cepat dari data bulan sebelumnya.
Yuan diluar negeri diperdagangkan di 7,074 yuan per dolar AS, stabil di perdagangan awal Asia dan berada di jalur kinerja bulanan terbaiknya sejak Agustus.
Dolar Selandia Baru (kiwi) diperdagangkan di US$0,5725, melemah tipis 0,1% di akhir reli satu pekan terbesar sejak akhir April.(yds)
Sumber: Reuters.com