Dolar Melemah, Damai Ukraina & The Fed Bikin Tertekan?
Dolar AS terus melemah sejak Senin (26/11), sejalan dengan proyeksi ING, di tengah naiknya optimisme pasar terhadap peluang damai Rusia–Ukraina dan spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember.
Analis FX ING, Francesco Pesole, menilai sebagian penguatan mata uang Eropa didukung sentimen positif soal pembicaraan damai, sementara dari sisi valuasi jangka pendek, dolar memang terlihat “kepahalan” dan wajar mengalami koreksi.
Meski sempat muncul berita bahwa Ukraina sudah menerima syarat final kesepakatan damai, laporan itu dikoreksi dan dinilai masih terlalu dini. Namun, nada pembicaraan dianggap makin konstruktif: AS disebut makin agresif mendorong gencatan senjata, Ukraina mulai membuka ruang kompromi, dan utusan khusus AS Steve Witkoff dikirim untuk bertemu Presiden Putin. Jika ada tanda-tanda terobosan, hal itu berpotensi menekan harga energi dan dolar, sambil menguntungkan mata uang Eropa berisiko tinggi.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar juga mencermati kabar bahwa Kevin Hassett disebut sebagai kandidat terdepan pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed. Hassett dipandang sebagai sosok yang dovish, sehingga jika resmi dinominasikan, pasar bisa menurunkan ekspektasi terminal rate yang saat ini sedikit di bawah 3% dan kian menekan dolar.
ING juga memperkirakan laporan FX Treasury AS yang tertunda tidak akan memberi label “manipulator” kepada negara mana pun, meski Thailand diperkirakan masuk daftar pemantauan. Kombinasi faktor geopolitik dan The Fed ini membuat risiko pelemahan dolar tetap dominan menjelang libur Thanksgiving. (yds)
Sumber: FXstreet.com