GBP/USD Naik, Tapi Dolar AS Tetap Kuat
Pound sterling menguat terbatas terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (1/7), meskipun greenback masih mendapat dukungan dari komentar Ketua Federal Reserve Kevin Warsh. GBP/USD naik sekitar 0,14% dan bergerak di sekitar 1,3277 setelah sempat turun ke level harian 1,3219.
Di forum tahunan European Central Bank di Sintra, Portugal, Warsh menegaskan bahwa The Fed tidak akan memberikan forward guidance mengenai arah suku bunga berikutnya. Ia mengatakan inflasi masih terlalu tinggi, pasar tenaga kerja tetap stabil, dan bank sentral AS akan tetap fokus membawa inflasi kembali ke target 2%.
Komentar Warsh membuat dolar AS tetap relatif kuat. Indeks dolar AS atau DXY bergerak di sekitar 101,34, naik 0,17%. Namun, reaksi pasar tidak terlalu besar karena investor sudah memperhitungkan sikap The Fed yang lebih berhati-hati dan berbasis data.
Data ekonomi Amerika Serikat memberi sinyal campuran. ADP Employment Change menunjukkan sektor swasta hanya menambah 98.000 pekerjaan pada Juni, lebih rendah dari perkiraan 113.000 dan turun dari 122.000 pada Mei. Angka ini menunjukkan momentum penciptaan kerja mulai melambat.
Namun, data Challenger Job Cuts menunjukkan jumlah rencana pemutusan hubungan kerja turun 53% pada Juni menjadi 45.849 dari 97.006 sebelumnya. Penurunan PHK tersebut memberi sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS belum melemah tajam, meskipun laju perekrutan mulai lebih moderat.
Dari Inggris, investor juga mencermati dinamika politik setelah Keir Starmer mengumumkan pengunduran diri sebagai perdana menteri. Andy Burnham, yang diperkirakan menjadi penerusnya, berupaya menenangkan pasar dengan menegaskan bahwa ia akan tetap mematuhi aturan fiskal yang ditetapkan Kanselir Rachel Reeves.
Komitmen Burnham terhadap disiplin fiskal penting bagi pasar karena membantu meredakan kekhawatiran terhadap risiko pelebaran defisit dan tekanan pada obligasi Inggris. Sikap tersebut membuat pound tetap mendapat dukungan, meskipun ketidakpastian politik masih membayangi.
Dari sisi kebijakan moneter, ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of England mulai mereda setelah kesepakatan AS-Iran menekan harga minyak. Harga energi yang lebih rendah dapat membantu meredakan prospek inflasi, sehingga BoE memiliki ruang untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga tambahan.
Meski begitu, pasar swap masih memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga BoE pada 2026. Hal ini menunjukkan bahwa investor belum sepenuhnya yakin inflasi Inggris akan turun secara berkelanjutan, terutama jika harga energi kembali naik atau tekanan upah tetap kuat.
Secara keseluruhan, penguatan pound pada Rabu masih terlihat terbatas. GBP/USD mendapat dukungan dari stabilisasi politik Inggris dan data AS yang tidak sepenuhnya kuat, tetapi kenaikan lebih lanjut masih dibatasi oleh dolar AS yang tetap ditopang sikap hawkish The Fed.
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada data Nonfarm Payrolls AS, arah inflasi Inggris, dan perkembangan transisi kepemimpinan di London. Jika data tenaga kerja AS melemah, pound berpeluang memperpanjang kenaikan. Namun, jika data AS kembali kuat, dolar dapat pulih dan menekan GBP/USD kembali ke area bawah.(arl)
Sumber: Newsmaker.id