Bailey Tegaskan BoE Belum Siap Pangkas Suku Bunga
Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengatakan bank sentral Inggris belum berada dalam posisi untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga. Pernyataan ini disampaikan meskipun harga minyak telah turun kembali mendekati level sebelum perang Iran.
Berbicara dalam konferensi European Central Bank di Sintra, Portugal pada hari Rabu (1/7), Bailey mengatakan ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini sebelumnya memang sempat masuk akal karena ekonomi Inggris mulai melambat. Namun, menurutnya, opsi tersebut sudah tidak berlaku sejak Maret dan masih belum kembali masuk pertimbangan saat ini.
Bailey juga menegaskan bahwa BoE tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan kebijakan moneter. Bank sentral masih membutuhkan waktu untuk menilai bagaimana lonjakan harga minyak sebelumnya memengaruhi ekonomi Inggris, terutama terhadap inflasi, biaya produksi, dan daya beli rumah tangga.
Sikap hati-hati ini muncul ketika harga energi mulai mereda setelah sempat melonjak akibat konflik Iran. Namun, Bailey menilai pergerakan harga minyak dan gas masih sulit diprediksi. Ia bahkan menyebut harga futures minyak dan gas sebagai indikator yang buruk untuk membaca arah harga energi ke depan.
Ketidakpastian energi menjadi salah satu tantangan utama bagi BoE. Jika harga minyak kembali naik, tekanan inflasi dapat kembali menguat. Namun, jika harga energi terus turun, tekanan terhadap inflasi bisa mereda dan memberi ruang bagi bank sentral untuk menahan kebijakan lebih lama.
Dalam forum yang sama, sejumlah pembuat kebijakan bank sentral, termasuk Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, juga menolak memberi forward guidance atau panduan eksplisit mengenai arah kebijakan ke depan. Hal ini menunjukkan bahwa bank sentral utama dunia kini lebih memilih pendekatan berbasis data dibanding memberi sinyal pasti kepada pasar.
Mayoritas tipis ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan BoE akan mempertahankan suku bunga tahun ini. Namun, pasar keuangan masih memperkirakan peluang sekitar 75% untuk satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, turun jauh dari ekspektasi tiga kali kenaikan setelah konflik Iran pertama kali pecah.
Bagi pasar, komentar Bailey memberi sinyal bahwa BoE belum siap berbalik dovish. Meski ekonomi Inggris melambat, risiko inflasi masih cukup besar untuk membuat bank sentral tetap berhati-hati. Kondisi ini dapat menopang pound sterling, tetapi juga membatasi ruang penguatan saham jika pasar kembali khawatir terhadap suku bunga tinggi.
Secara keseluruhan, arah kebijakan BoE masih sangat bergantung pada data inflasi, harga energi, dan kondisi ekonomi domestik. Selama dampak harga minyak terhadap inflasi belum jelas, pemangkasan suku bunga kemungkinan tetap berada di luar agenda utama bank sentral Inggris.(arl)
Sumber: Newsmaker.id