GBP/USD Terkoreksi, Ditengah Menguatnya Dolar AS!
GBP/USD tercatat melemah ke sekitar 1,3560 pada perdagangan Asia Rabu (15/04). Pelemahan ini terjadi setelah Pound sterling mengalami kenaikan selama tujuh hari berturut-turut. Tekanan muncul seiring Dolar AS yang menguat, meski permintaan aset safe haven cenderung mereda karena optimisme pasar terhadap peluang solusi diplomatik di Timur Tengah.
Saat ini, fokus geopolitik mengarah pada rencana pembicaraan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran, menjelang tenggat gencatan senjata dua pekan. Presiden AS Donald Trump memberi sinyal negosiasi bisa berlanjut pekan ini, sementara Wakil Presiden JD Vance menyebut ada kemajuan signifikan pada putaran awal, dengan diskusi yang berpotensi berlangsung dalam hitungan hari. Di sisi lain, meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz tetap menjaga risiko energi global.
Dari sisi data, Producer Price Index (PPI) AS memperkuat narasi meredanya tekanan inflasi, sehingga mengurangi urgensi The Fed untuk mempertahankan sikap lebih hawkish. PPI tercatat 0,5% bulanan, di bawah konsensus 1,2%, sementara core PPI 0,1% bulanan versus ekspektasi 0,6%. Secara tahunan, PPI naik 4% pada Maret (di bawah perkiraan 4,6% dan dari 3,4% Februari), sedangkan core PPI stabil di 3,8% tahunan.
Di Inggris, yield gilt 10 tahun turun mendekati 4,7% seiring harga minyak melemah di tengah ekspektasi negosiasi AS-Iran, yang membantu meredakan kekhawatiran inflasi dari sisi energi. Namun, lonjakan biaya energi sebelumnya masih membuat pasar memproyeksikan hampir dua kali kenaikan suku bunga Bank of England hingga akhir 2026. Permintaan obligasi Inggris juga disebut tetap kuat, dengan sindikasi gilt 10 tahun terbaru menarik penawaran rekor £148 miliar.
Ke depan, pergerakan GBP/USD cenderung ditentukan oleh kombinasi arah USD pasca-data inflasi produsen, dinamika harga energi terkait risiko Selat Hormuz, serta pembentukan ekspektasi suku bunga BoE yang tercermin pada yield gilt dan permintaan lelang obligasi. Pasar juga akan memantau perkembangan konkret jadwal dan hasil pembicaraan AS-Iran serta sensitivitas harga minyak terhadap berita geopolitik. (asd)
Sumber: Newsmaker.id