Minyak Melonjak, Serangan AS–Iran dan Stok AS Angkat Risiko Pasokan
Harga minyak naik untuk hari ketiga berturut-turut setelah pertukaran serangan baru antara AS dan Iran kembali meragukan peluang kesepakatan damai yang bisa membuka Selat Hormuz. Pada perdagangan Rabu (3/6), WTI naik 2,4% dan ditutup di US$96,02/barel, memperpanjang kenaikan pekan ini menjadi sekitar 9,6%. Brent kontrak Agustus naik 1,9% dan ditutup di US$97,81/barel.
Kenaikan dipicu eskalasi di lapangan. Setelah AS dilaporkan menghantam kapal tanker kosong yang menuju Iran, militer AS mengatakan mereka mendapat serangan rudal dan drone. Iran juga disebut menarget pangkalan angkatan laut utama AS di kawasan yang berada di Bahrain, serta sebuah pangkalan udara di Kuwait. Di sisi lain, perang Israel di Lebanon ikut menambah kompleksitas negosiasi, membuat pasar semakin sulit mem-price-in de-eskalasi yang cepat.
Fokus pasar tetap pada status gencatan senjata dan masa depan arus tanker di Hormuz. Ketidakjelasan ini membuat harga mudah berayun; bulan lalu minyak sempat melemah karena optimisme deal, tetapi keterlambatan resolusi kini meningkatkan kekhawatiran dunia harus terus menguras persediaan minyak sambil menunggu ekspor Teluk pulih penuh.
Yang membuat pasar lebih sensitif adalah kondisi stok. Data pemerintah AS menunjukkan stok minyak/petroleum nasional turun delapan pekan beruntun, terpanjang sejak awal 2022. Stok di Cushing, Oklahoma—titik serah WTI—turun pekan keenam berturut-turut dan mendekati level minimum operasional, mempersempit “bantalan” bila gangguan pasokan Hormuz berlangsung lama.
Menjelang penutupan, Tasnim melaporkan komunikasi Iran–AS masih berjalan, tetapi belum ada kemajuan dalam negosiasi. Di AS, Trump disebut meminta Iran menuliskan konsesi nuklir secara spesifik sebagai bagian dari kesepakatan awal, setelah sebelumnya Iran memberi jaminan lisan. Volatilitas yang tinggi juga membuat pelaku pasar mengurangi posisi; open interest Brent turun ke level terendah sejak Agustus, menandakan posisi spekulatif makin terbatas.
Di luar Timur Tengah, risiko pasokan lain ikut menjadi latar: Rusia melaporkan serangkaian drone ditembak jatuh di wilayah Leningrad, sementara Ukraina mengklaim menyerang Petersburg Oil Terminal dan target militer. Kombinasi eskalasi geopolitik dan stok AS yang menipis membuat premi risiko kembali “lengket”, sehingga harga minyak tetap sangat headline-driven dalam jangka pendek.(arl)
Sumber: Newsmaker.id