Poundsterling Turun Tipis, Risiko Geopolitik Ikut Membayangi
GBP/USD bergerak melemah tipis pada sesi Asia Jumat (10/04), namun penurunannya terbatas dan mata uang ini masih bertahan di atas 1,3400. Harga spot berada di area 1,3420–1,3415, tidak jauh dari level tertinggi sejak akhir Februari yang tercapai awal pekan ini, dan tetap berpeluang menutup pekan dengan kenaikan kuat saat pasar menunggu katalis baru.
Pada saat ini, fokus utama investor mengarah ke rilis Consumer Price Index (CPI) AS. Data tersebut diperkirakan menunjukkan inflasi kembali naik pada Maret, seiring lonjakan harga minyak mentah yang dipicu perang. Sehingga membuat Federal Reserve lebih berhati-hati untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Ekspektasi Fed lebih lama menahan suku bunga cenderung menopang dolar dan membatasi ruang penguatan pound.
Dolar juga mendapat dukungan dari ketegangan di Selat Hormuz. Iran menghentikan lalu lintas pengapalan di jalur strategis itu sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon, sementara Presiden AS Donald Trump menuding Iran melakukan pekerjaan yang “sangat buruk” dalam mengelola arus minyak dan mengingatkan risiko serangan kembali jika kesepakatan Iran gagal. Risiko eskalasi tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan premi geopolitik dan ikut menahan pergerakan GBP/USD.
Di sisi Inggris, pasar disebut telah memangkas tajam taruhan kenaikan suku bunga Bank of England dan kini memperkirakan sekitar 30–40 bps kenaikan hingga akhir tahun. Namun ini tetap berbeda dibanding sinyal The Fed yang mengarah pada satu pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun ini dan satu lagi pada 2027, sehingga divergensi kebijakan masih bisa menjadi penyangga bagi pound dan membuat pasar cenderung berhati-hati sebelum mendorong GBP/USD turun lebih jauh. (asd)
Sumber: Newsmaker.id