Poundsterling Tertekan, Pasar Beralih ke Dolar AS sebagai Aset Aman
Poundsterling melemah terhadap dolar AS, karena permintaan akan aset aman meningkat di tengah ketidakpastian geopolitik. Pasangan GBP/USD memangkas kenaikan sebelumnya dan diperdagangkan sekitar 1,3220 di Asia pada hari Selasa, karena sentimen penghindaran risiko mendorong dolar.
Fokus pasar tertuju pada pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa ia menganggap proposal gencatan senjata dengan Iran "tidak cukup baik" menjelang batas waktu pembukaan kembali Selat Hormuz. Trump menekankan bahwa negosiasi sedang berlangsung, tetapi tetap menyatakan bahwa masalah Hormuz adalah titik permasalahan penting yang dapat menentukan arah eskalasi.
Para pelaku pasar juga memantau batas waktu pukul 20.00 ET yang ditetapkan Trump untuk Hormuz, di tengah peringatan bahwa AS dapat menargetkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika tuntutan tidak dipenuhi. Dari segi data, PMI Jasa ISM AS turun menjadi 54,0 pada Maret dari 56,1 pada Februari, di bawah perkiraan 55,0, menunjukkan bahwa momentum sektor jasa sedikit melemah, meskipun masih berada di wilayah ekspansi.
Di Inggris, beberapa pembuat kebijakan Bank of England, termasuk Sarah Breeden dan Swati Dhingra, dilaporkan beralih dari preferensi untuk pemotongan suku bunga ke mempertahankan suku bunga, dengan alasan kenaikan biaya energi akibat konflik Timur Tengah dan potensi inflasi CPI naik menjadi 3%–3,5% dalam beberapa kuartal mendatang. Ke depan, jika risiko Hormuz membuat harga minyak tetap tinggi, tekanan inflasi energi dapat memperkuat narasi "lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama" dan menjaga dolar tetap relatif kuat melalui kombinasi aset safe-haven dan ekspektasi suku bunga. Sementara itu, emas berpotensi bergerak ke kedua arah, didukung oleh permintaan hedging seiring meningkatnya risiko geopolitik tetapi dibatasi oleh imbal hasil dan penguatan dolar.
5 Poin Utama:
- GBP/USD melemah menjadi sekitar 1,3220 karena dolar yang lebih kuat di tengah sentimen risk-off.
- Trump menyebut proposal gencatan senjata Iran "tidak cukup baik" menjelang batas waktu pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Pasar memantau tenggat waktu pukul 20.00 ET dan risiko eskalasi jika tuntutan AS tidak dipenuhi.
- Data ISM Jasa AS turun menjadi 54,0, menunjukkan momentum yang melambat, meskipun tetap ekspansif.
- Pejabat Bank of England kemungkinan akan mempertahankan suku bunga karena kenaikan biaya energi dan risiko inflasi mencapai 3%–3,5% dalam beberapa kuartal mendatang. (asd)
Sumber: Newsmaker.id