GBP Terseret Repricing BoE, Fokus Bergeser ke Inflasi
Tekanan pada poundsterling diperkirakan belum selesai sampai rilis inflasi Inggris pekan depan (18 Februari 2026), karena pasar masih merapikan ekspektasi pemangkasan suku bunga Bank of England (BoE). Di perdagangan terbaru, GBP/USD berada di sekitar 1,3610, turun sekitar 0,09% dari sesi sebelumnya—mencerminkan sterling yang masih sulit mengunci rebound yang konsisten.
Sumber pelemahan utamanya datang dari repricing arah BoE setelah pertemuan Februari yang bernada relatif dovish. BoE menahan suku bunga di 3,75% dengan voting yang ketat (5–4), yang membuat pasar makin “kebuka” terhadap skenario pemangkasan di pertemuan berikutnya pada 19 Maret 2026—dan ekspektasi cut itu cenderung akan makin menguat bila data CPI nanti kembali menunjukkan disinflasi berjalan sesuai rute setelah kenaikan sementara sebelumnya.
Di luar faktor suku bunga, sterling juga masih membawa premi risiko dari dinamika politik domestik. Meski tensi sempat mereda, beberapa episode ketidakpastian politik belakangan ini terbukti cepat memukul GBP dan membuat investor lebih selektif menambah posisi. Efek gabungan “BoE lebih dovish + politik masih sensitif” inilah yang bikin sterling mudah tertinggal dibanding mata uang yang didukung narasi kebijakan lebih agresif. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id