Pound Menguat Tipis Jelang NFP
Pound sterling menguat terbatas terhadap dolar AS pada Kamis (04/6) di sesi Asia, dengan GBP/USD kembali bertahan di atas 1,3400 setelah sempat mendekati level terendah pekanan. Penguatan ini lebih banyak dipicu pelemahan dolar seiring meredanya permintaan aset safe haven, bukan karena dorongan fundamental domestik Inggris.
Dolar melemah setelah Israel dan Lebanon mengumumkan kesepakatan gencatan bersyarat dalam pernyataan bersama dengan AS. Perkembangan itu mengurangi kekhawatiran konflik regional meluas, sehingga menahan reli dolar yang terjadi sejak awal pekan dan memberi ruang pantulan pada mata uang berisiko, termasuk pound.
Namun, pasar belum berani mendorong GBP/USD lebih tinggi karena ketegangan di Teluk tetap aktif. AS melaporkan berhasil menggagalkan serangkaian rudal dan drone Iran yang menarget Kuwait dan Bahrain serta melakukan serangan “self-defense” di Pulau Qeshm, sementara Iran disebut membalas dengan menarget pangkalan militer AS di Bahrain. Kebuntuan negosiasi AS–Iran terkait program nuklir Teheran dan status Selat Hormuz membuat risiko eskalasi tetap tinggi, sehingga dolar masih punya penopang dari sisi ketidakpastian geopolitik.
Dari sisi transmisi pasar, konflik yang menjaga harga energi tetap tinggi berisiko memperpanjang tekanan inflasi, mendorong pasar mempertahankan ekspektasi kebijakan moneter AS yang ketat. Prospek The Fed tetap hawkish—termasuk taruhan kenaikan suku bunga pada 2026—cenderung menopang dolar dan membatasi ruang penguatan GBP/USD, meskipun dolar sempat melemah karena faktor sentimen.
Pelaku pasar juga cenderung menahan posisi menjelang rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) AS pada Jumat. Data tenaga kerja ini berpotensi mengubah ekspektasi jalur suku bunga The Fed, sehingga bisa memicu volatilitas pada dolar dan pasangan mayor, termasuk GBP/USD.
Dengan kombinasi gencatan yang belum sepenuhnya “terverifikasi” di lapangan dan pasar yang menunggu NFP, bias jangka pendek GBP/USD terlihat rapuh: reli berpeluang cepat tertahan, sementara area yang lebih tinggi berisiko memancing aksi jual baru jika dolar kembali menguat.(asd)
Sumber : Newsmaker.id