Dolar Menguat, Pound Tertekan: Apa Pemicu Utamanya?
GBP/USD melemah ke area 1,3670 pada awal sesi Eropa hari Senin, turun di bawah 1,3700. Tekanan datang dari penguatan dolar AS, setelah pasar melihat sentimen AS lebih stabil dan mulai menghitung ulang arah kebijakan moneter ke depan.
Pemicu besarnya adalah keputusan Donald Trump yang memilih Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve berikutnya. Warsh dipandang cenderung mendukung neraca bank sentral yang lebih kecil dan kemungkinan suku bunga bertahan lebih tinggi lebih lama—kombinasi yang biasanya memperkuat dolar dan jadi beban untuk GBP/USD.
Dolar juga mendapat “bensin” tambahan dari data inflasi produsen AS yang lebih panas. Bureau of Labor Statistics melaporkan PPI naik 3,0% (YoY) pada Desember, di atas perkiraan 2,7%. Secara bulanan, PPI naik 0,5% (MoM), lebih tinggi dari konsensus dan data sebelumnya 0,2%—memperkuat argumen suku bunga AS bisa tetap ketat lebih lama.
Pasar kini menunggu data PMI Manufaktur ISM dari Institute for Supply Management yang rilis Senin ini. Angka ISM yang kuat berpotensi menjaga dolar tetap firm, sementara hasil yang lemah bisa memberi ruang napas sementara untuk pound.
Dari sisi Inggris, fokus berikutnya adalah keputusan suku bunga Bank of England pada Kamis. BoE diperkirakan menahan suku bunga di 3,75%, setelah voting sebelumnya sempat ketat dan sebagian pembuat kebijakan memberi sinyal laju penurunan suku bunga bisa melambat. Andrew Bailey dan timnya cenderung menjaga opsi tetap terbuka—yang artinya, arah GBP/USD tetap sangat sensitif pada selisih ekspektasi suku bunga AS vs Inggris.(asd)
Sumber: Newsmaker.id