Euro Melemah, Dolar AS Kembali Diburu di Tengah Risiko Iran
Euro melemah ke sekitar level 1,1425 terhadap dolar AS pada perdagangan Eropa, Kamis (09/07). Tekanan terjadi setelah dolar AS kembali memangkas sebagian besar pelemahan awalnya, didukung oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah risiko geopolitik baru.
Indeks Dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, bergerak sedikit melemah di sekitar level 101,00. Namun, indeks tersebut berhasil rebound dari level terendah harian di 100,80, menunjukkan permintaan terhadap dolar masih cukup kuat.
Sentimen safe haven meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melakukan serangan. Ketegangan bertambah setelah Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman atau MoU dengan Iran sudah berakhir.
Militer AS juga dilaporkan menyerang infrastruktur Iran, sehingga pasar menilai ketegangan dapat berlangsung lebih lama. Kondisi ini kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama karena konflik menyentuh jalur energi penting di sekitar Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak akibat berkurangnya lalu lintas di dekat Selat Hormuz kembali mengangkat ekspektasi inflasi. Situasi ini dapat membuat pejabat Federal Reserve semakin berhati-hati untuk memangkas suku bunga tahun ini. Risalah rapat FOMC bulan Juni juga menunjukkan bahwa pembuat kebijakan masih melihat inflasi sebagai risiko utama, dan beberapa pejabat menilai pengetatan lanjutan masih mungkin diperlukan.
Di sisi lain, pasar juga mulai menaikkan ekspektasi hawkish terhadap European Central Bank setelah harga minyak melonjak akibat memburuknya hubungan AS-Iran. Menurut laporan Reuters, trader kini memperkirakan tambahan kenaikan suku bunga sekitar 30 basis poin tahun ini. Pada Juni, ECB telah menaikkan suku bunga utamanya sebesar 25 basis poin. (yds)
Sumber: Newsmaker.id