EUR/USD Tertekan, Risiko Geopolitik Dukung Dolar
EUR/USD melemah ke bawah 1,1700 pada perdagangan Asia awal Jumat (10/4), ketika pelaku pasar bersiap menghadapi rilis inflasi AS (CPI) bulan Maret dan memantau perkembangan pembicaraan perdamaian AS-Iran. Pasangan mata uang ini diperdagangkan di area 1,1690, dengan dolar AS kembali mendapat dukungan dari sentimen kehati-hatian.
Pelemahan euro terjadi di tengah keraguan pasar atas ketahanan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran. Ketidakpastian terkait implementasi kesepakatan membuat investor cenderung defensif, terutama menjelang agenda diplomatik yang dinilai berisiko tinggi bagi stabilitas kawasan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan kelanjutan perundingan untuk mengakhiri perang bergantung pada kepatuhan AS terhadap komitmen gencatan senjata. Ia menyatakan komitmen tersebut mencakup gencatan senjata di Lebanon, sementara AS dan Israel menegaskan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan.
AS disebut menyiapkan rangkaian pembicaraan di Pakistan pekan ini, dengan Wakil Presiden JD Vance serta utusan senior Steve Witkoff dan Jared Kushner, untuk membahas potensi kesepakatan jangka panjang dengan Iran. Meski jeda permusuhan dua minggu dinilai “sebagian besar” masih berjalan, tensi tetap tinggi setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Israel akan “terus menyerang Hezbollah dengan kekuatan.”
Dari sisi data, fokus utama pasar pada Jumat adalah CPI AS Maret. Inflasi utama diproyeksikan naik 3,3% (yoy) dari 2,4% pada Februari, dengan dorongan dari kenaikan harga minyak seiring konflik di Timur Tengah; pembacaan yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi menekan dolar terhadap euro.
Di Eropa, nada kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) disebut cenderung hawkish, dengan sinyal kemungkinan pengetatan lanjutan bila tekanan harga bertahan. Menurut Reuters, pasar kini sepenuhnya memperhitungkan dua kenaikan suku bunga, serta peluang lebih dari 50% untuk kenaikan ketiga pada Desember, yang menjadi penahan pelemahan euro namun tetap akan diuji oleh arah data inflasi AS dan perkembangan geopolitik. (asd)
Sumber: Newsmaker.id