Euro Tertahan, Pasar Waspadai Risiko Geopolitik dan Energi
EUR/USD diperdagangkan dengan hati-hati pada sesi Eropa Kamis, bergerak di sekitar area 1,1550 setelah pelemahan pada sesi sebelumnya. Pergerakan yang cenderung terbatas ini mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah sinyal yang saling bertolak belakang terkait peluang de-eskalasi konflik Iran kembali membayangi pasar.
Dari sisi sentimen, dolar AS masih mendapat dukungan sebagai aset aman ketika pasar global bergerak defensif. Reuters melaporkan bahwa ketidakpastian soal konflik Iran, risiko di Selat Hormuz, dan lonjakan harga minyak telah menekan aset berisiko sekaligus menopang dolar, sementara harga obligasi juga tertekan karena pasar menyesuaikan ekspektasi suku bunga. Dalam kondisi seperti ini, euro menjadi sulit menguat lebih jauh karena minat terhadap aset berisiko belum benar-benar pulih.
Di sisi lain, tekanan terhadap euro juga datang dari memburuknya sentimen ekonomi kawasan euro. Konsumen di Jerman, Prancis, dan Italia dilaporkan semakin pesimistis karena perang Iran mendorong kenaikan biaya hidup dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Pada saat yang sama, ECB memperingatkan bahwa konflik ini bisa memicu stres sistemik di pasar keuangan dan menambah ketidakpastian terhadap pertumbuhan serta inflasi, sehingga prospek euro ikut tertahan.
Untuk jangka pendek, pasar akan memperhatikan apakah ketidakpastian Timur Tengah mulai mereda atau justru memburuk, karena itu akan sangat menentukan arah dolar dan euro berikutnya. Selain itu, pergerakan harga minyak, yield obligasi, dan komentar bank sentral juga akan menjadi faktor penting. Selama sentimen risk-off masih dominan dan pasar belum melihat kejelasan diplomatik, EUR/USD kemungkinan tetap bergerak terbatas dengan kecenderungan hati-hati.
Penyebab:
1. Ketidakpastian konflik Timur Tengah membuat investor menahan aksi beli di euro.
2. Dolar AS masih diburu sebagai aset aman saat pasar global cenderung defensif.
3. Kekhawatiran inflasi dan perlambatan ekonomi di kawasan euro ikut menahan ruang penguatan euro.
Hal yang harus diperhatikan:
1. Perkembangan terbaru konflik Iran dan peluang de-eskalasi.
2. Arah harga minyak dan yield obligasi, karena keduanya memengaruhi permintaan terhadap dolar.
3. Nada komentar ECB dan data ekonomi zona euro, karena itu akan menentukan daya tahan euro di tengah tekanan eksternal.(CP)
Sumber: Newsmaker.id