Euro Tersungkur, Dolar Makin Perkasa
Pasangan EUR/USD kembali berada dalam tekanan jual dan bertahan di bawah level 1,1600 pada perdagangan sesi Asia hari Rabu. Pelemahan ini menandai hari ketiga berturut-turut EUR/USD turun, sekaligus memperlihatkan bahwa pemantulan dari area 1,1530yang merupakan level terendah sejak November 2025 belum cukup kuat untuk mengubah arah tren jangka pendek.
Sentimen pasar masih didominasi mode “risk-off” akibat konflik yang meluas di Timur Tengah, yang membuat Dolar AS kembali diburu sebagai aset aman. Kondisi ini memperkuat posisi USD sebagai mata uang cadangan global saat ketidakpastian meningkat, sehingga permintaan terhadap Greenback tetap tinggi meski volatilitas pasar melebar.
Selain faktor geopolitik, kekhawatiran inflasi juga ikut memperkuat USD. Lonjakan biaya energi akibat risiko gangguan pasokan terutama jika arus distribusi di kawasan Teluk terganggu mendorong pasar menilai bahwa tekanan harga bisa bertahan lebih lama. Akibatnya, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed cenderung tertahan, yang pada akhirnya menopang Dolar dan menekan EUR/USD.
Bagi Eropa, narasi energi menjadi beban tambahan untuk Euro. Ketergantungan pada impor energi membuat kenaikan harga minyak dan gas berpotensi menjadi “guncangan ekonomi” yang menggerus prospek pertumbuhan serta memperbesar risiko inflasi impor. Kombinasi ini membuat Euro relatif lebih rentan dibanding USD di tengah ketidakpastian global.
Pelaku pasar kini menanti data PMI Jasa final Zona Euro untuk petunjuk arah jangka pendek, lalu beralih ke agenda AS seperti ADP dan PMI Jasa ISM. Namun, fokus utama tetap pada perkembangan geopolitik karena headline terkait konflik dan jalur energi dapat dengan cepat mengubah sentimen terutama melalui dampaknya pada minyak, inflasi, dan ekspektasi suku bunga.
Pandangan & prediksi perak: bila risk-off berlanjut dan ketegangan energi memicu permintaan lindung nilai, perak berpeluang menguat mengikuti aset safe haven. Namun, penguatan ini bisa tidak mulus karena perak sangat sensitif terhadap USD yang kuat dan yield tinggi dua faktor yang biasanya menahan reli logam mulia. Jadi, skenario paling mungkin: perak cenderung rebound/naik bertahap selama headline konflik tetap panas, tetapi berpotensi volatile dan mudah koreksi jika dolar kembali melonjak atau pasar makin “hawkish” pada suku bunga.(Asd)
Sumber: Newsmaker.id