Euro Menguat Ketidakpastian Tarif Trump Tekan USD
Pasangan EUR/USD kembali menguat pada Rabu (25/2) di sesi Asia dan sempat melonjak ke area 1,1800, membalikkan pelemahan tipis hari sebelumnya. Dorongan utama datang dari pelemahan Dolar AS karena pasar masih gelisah menghadapi ketidakpastian arah kebijakan dagang Washington yang berubah cepat.
Setelah putusan Mahkamah Agung AS yang membatasi skema tarif sebelumnya, Presiden Donald Trump memperkenalkan tarif global sementara 10% yang berlaku 150 hari di bawah Section 122, sembari memberi sinyal pemerintah sedang mengupayakan kenaikan menuju 15%. Kombinasi “tarif sementara + potensi eskalasi” ini memicu kekhawatiran aksi balasan mitra dagang dan gangguan rantai pasok, yang akhirnya menekan USD dan memberi ruang napas untuk euro.
Dari sisi kebijakan moneter AS, nada The Fed masih cenderung hawkish-hati-hati: notulen FOMC Januari menunjukkan sebagian pejabat menilai pelonggaran tambahan belum perlu sampai ada bukti disinflasi kembali on-track. Sejumlah pejabat Fed juga menekankan sikap “tahan suku bunga di level sekarang untuk sementara,” sehingga dukungan ke USD ada—namun tertutup oleh beban ketidakpastian tarif.
Di Eropa, sentimen euro mendapat penopang setelah Christine Lagarde menyebut inflasi Zona Euro dan kebijakan suku bunga ECB berada di “tempat yang baik”, dengan sinyal tidak ada perubahan kebijakan yang sedang dipertimbangkan. Meski begitu, ruang penguatan EUR/USD bisa tertahan karena Parlemen Eropa menunda langkah terkait kesepakatan dagang EU–AS sambil menunggu kejelasan rezim tarif baru AS—membuat pasar cenderung menghindari posisi bullish yang terlalu agresif.
Fokus berikutnya adalah inflasi final Zona Euro, PDB final Jerman, serta indikator sentimen konsumen (GfK), lalu berlanjut ke komentar pejabat Fed pada sesi Amerika Utara. Dengan latar fundamental yang campuran (tarif vs Fed/ECB), pasar cenderung lebih sensitif terhadap headline dan data, jadi volatilitas jangka pendek masih berpotensi tinggi.(alg)
Sumber: Newsmaker.id