Dolar “Bangkit”, Euro Kehilangan Tenaga Jelang FOMC
Euro mulai mundur perlahan pada Rabu (28/1) setelah sempat “ngetes” ke area psikologis 1,2000, seiring Dolar AS mencoba bangkit pelan-pelan menjelang keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan rilis 19:00 GMT. Pada saat penulisan, EUR/USD berada di sekitar 1,1935, turun dari puncak harian yang merupakan level tertinggi sejak Juni 2021.
Rebound dolar kali ini ditopang komentar pejabat AS yang membantu meredakan kepanikan pasar setelah aksi jual greenback beberapa hari terakhir. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan kembali garis besar kebijakan “dolar kuat”, sambil membantah spekulasi bahwa Washington ikut bermain di pasar valas—ia menekankan AS tidak sedang melakukan intervensi pada USD/JPY.
Pernyataan Bessent datang tak lama setelah komentar Presiden Donald Trump yang terkesan santai dengan pelemahan dolar. Trump mengatakan dolar seharusnya “mencari levelnya sendiri”, memperkuat persepsi pasar bahwa Gedung Putih tidak terburu-buru menahan pelemahan mata uangnya.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar luas memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%, setelah tiga kali pemangkasan 25 bps tahun lalu. Sejak rapat Desember, data tenaga kerja AS masih terlihat cukup tangguh, sementara inflasi melandai meski belum turun ke target 2%. Kondisi ini membuat The Fed berada di mode wait and see, dan fokus pasar bakal mengunci pada pernyataan Jerome Powell: apakah jalur pelonggaran selanjutnya masih terbuka, dan seberapa cepat.
Di belakang layar, isu kepemimpinan The Fed juga ikut bikin pasar waspada. Trump disebut akan mengumumkan pilihannya untuk Ketua The Fed berikutnya (waktunya belum pasti), dengan nama-nama seperti Rick Rieder, Christopher Waller, hingga Kevin Warsh disebut-sebut sebagai kandidat. Investor menilai pilihan Trump bisa menggeser arah kebijakan menjadi lebih “lunak”, mengingat Trump berulang kali mengkritik Powell karena dianggap tidak memangkas suku bunga cukup agresif.
Sementara itu di Eropa, penguatan euro belakangan ini mulai jadi perhatian ECB. Anggota Dewan Gubernur ECB François Villeroy de Galhau mengatakan bank sentral memantau ketat apresiasi euro dan dampaknya terhadap peluang inflasi yang lebih rendah—sebuah faktor yang dapat ikut memandu keputusan suku bunga ECB dalam beberapa bulan ke depan. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id