Regulasi Binance Tambah Tekanan Kripto
Bitcoin masih berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat (26/6) sesi Eropa. Aset kripto terbesar di dunia itu bergerak di sekitar US$60.118, masih tertahan di bawah level psikologis US$61.000 setelah investor kembali mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Tekanan terhadap Bitcoin datang dari kombinasi sentimen makro dan arus dana institusional yang melemah. Investor masih mencermati peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada tahun ini setelah data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE AS menunjukkan tekanan harga tetap tinggi. Kondisi suku bunga tinggi cenderung menekan aset spekulatif seperti kripto karena instrumen tersebut tidak memberikan imbal hasil langsung.
Selain itu, arus keluar dari ETF Bitcoin spot masih menjadi perhatian utama pasar. Produk ETF Bitcoin spot kembali mencatat outflow selama beberapa pekan beruntun, menandakan minat institusional dan ritel terhadap kripto belum pulih kuat. Kondisi ini membuat Bitcoin sulit membangun momentum kenaikan yang stabil meskipun sesekali terjadi rebound teknikal.
Sentimen terhadap aset berisiko juga belum sepenuhnya membaik karena pasar saham global masih bergerak volatil. Aksi jual pada saham teknologi besar di Wall Street menekan minat investor terhadap aset spekulatif lain, termasuk kripto. Meski saham kecerdasan buatan masih menjadi tema besar pasar, dana investor saat ini cenderung memilih aset yang memiliki narasi fundamental lebih jelas dibandingkan kripto.
Di sisi lain, reli saham berbasis AI belum banyak membantu pasar kripto. Investor terlihat lebih selektif dan cenderung menempatkan dana pada sektor yang dianggap memiliki pertumbuhan pendapatan nyata, seperti semikonduktor dan infrastruktur data center. Hal ini membuat Bitcoin dan altcoin masih kalah menarik dibandingkan aset yang terkait langsung dengan tren kecerdasan buatan.
Dari pasar altcoin, Ethereum ikut melemah dan bergerak di sekitar US$1.563,84. BNB berada di kisaran US$567,54, sementara Solana bergerak sekitar US$69,76. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga menyebar ke mayoritas aset kripto utama.
Tekanan tambahan datang dari perkembangan regulasi di Eropa. Binance, bursa kripto terbesar di dunia, dilaporkan gagal mendapatkan lisensi di Yunani untuk beroperasi di bawah kerangka regulasi MiCA Uni Eropa. Kondisi ini menambah kekhawatiran terhadap prospek operasional bursa kripto besar di kawasan Eropa, meskipun Binance menyatakan pengguna tetap dapat mengakses aset mereka.
Aturan MiCA mewajibkan perusahaan kripto mendapatkan lisensi dari salah satu negara anggota Uni Eropa agar dapat beroperasi di seluruh blok tersebut. Ketidakpastian terhadap izin Binance membuat investor semakin berhati-hati, terutama karena regulator global terus memperketat pengawasan terhadap industri kripto.
Secara teknikal, Bitcoin masih berada dalam fase rapuh selama belum mampu kembali stabil di atas area US$61.000 hingga US$62.000. Jika tekanan jual berlanjut, area US$59.000 hingga US$58.000 dapat menjadi support penting berikutnya. Sebaliknya, jika dolar AS melemah dan outflow ETF mulai mereda, Bitcoin berpeluang mencoba rebound ke area US$62.500 hingga US$64.000.
Untuk jangka pendek, arah Bitcoin masih sangat bergantung pada tiga faktor utama, yaitu pergerakan dolar AS, ekspektasi suku bunga The Fed, dan arus dana ETF Bitcoin spot. Selama ketiga faktor tersebut belum memberi sinyal positif, ruang kenaikan kripto masih berpotensi terbatas meskipun harga sudah turun cukup dalam. (arl)
Sumber: Newsmaker.id