Emas Berbalik Menguat Pasca Data PCE AS
Harga emas berbalik menguat pada perdagangan Kamis (25/6) setelah data inflasi Amerika Serikat dirilis sesuai dengan ekspektasi pasar. Data tersebut meredakan sebagian kekhawatiran terhadap peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat, sehingga menekan dolar AS dan imbal hasil obligasi Treasury.
Harga emas spot naik 0,7% ke level US$4.029,09 per troy ounce setelah sebelumnya sempat turun hingga 1% pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat 0,9% ke level US$4.045,20 per troy ounce.
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan data PCE sebagian besar keluar sesuai dengan ekspektasi. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa harga emas bergerak lebih stabil pada perdagangan hari ini setelah mengalami tekanan dalam beberapa sesi terakhir.
Indeks harga Personal Consumption Expenditures atau PCE AS naik 4,1% dalam 12 bulan hingga Mei. Angka tersebut menjadi kenaikan terbesar dan pembacaan pertama di atas 4% sejak April 2023. Namun, karena hasilnya sesuai dengan perkiraan ekonom, pasar menilai data tersebut tidak cukup kuat untuk langsung memperbesar kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga yang lebih agresif.
Setelah data inflasi dirilis, dolar AS menghapus kenaikan dan berbalik melemah. Kondisi ini membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri. Imbal hasil Treasury AS juga ikut turun, sehingga mengurangi tekanan terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Berdasarkan data CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember sebesar 80%, turun dari 85% sebelum rilis data PCE. Meski begitu, peluang tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum pernyataan kebijakan The Fed pekan lalu, ketika pasar hanya melihat peluang sekitar 61%.
Tekanan terhadap emas sebelumnya meningkat setelah harga sempat jatuh di bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce pada Rabu, untuk pertama kalinya sejak November 2025. Pelemahan tersebut terjadi karena ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat setelah The Fed memberikan nada kebijakan yang lebih hawkish.
Meski emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi tetap menjadi tekanan besar bagi logam mulia. Ketika bunga dan yield naik, investor cenderung beralih ke aset yang memberikan imbal hasil, seperti obligasi pemerintah, sehingga daya tarik emas menurun.
Di sisi lain, harga minyak turun ke level sebelum perang karena ekspektasi meningkatnya pasokan dari Timur Tengah. Kesepakatan untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran juga membuka kembali lalu lintas melalui Selat Hormuz. Kondisi ini membantu meredakan tekanan inflasi energi, tetapi pasar tetap mencermati apakah inflasi inti AS masih akan bertahan tinggi.
Logam mulia lainnya juga ikut menguat. Harga perak spot naik sekitar 2,2% ke level US$58,68 per troy ounce, mengikuti pelemahan dolar dan turunnya yield Treasury. Dengan kondisi tersebut, emas berpeluang melanjutkan pemulihan jangka pendek selama dolar dan yield tetap melemah, meskipun risiko kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi faktor pembatas utama.(yds)
Sumber: Newsmaker.id