Emas Tertekan Dolar Kuat dan Ekspektasi Fed
Harga emas jatuh pada hari Jumat dan mencatat minggu keempat berturut-turut turun. Spot gold berada di $3.998,74 per ons, sementara kontrak berjangka AS tercatat $4.015,90 per ons. Penurunan ini terutama dipicu oleh penguatan dolar AS yang membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.
Secara mingguan, emas berada di jalur kehilangan hampir 4% dan turun sekitar 12% sepanjang bulan ini. Logam mulia lainnya juga melemah, dengan perak turun 2,5% ke $56,44 per ons, menuju penurunan mingguan 13%, sementara platinum turun 1,8% ke $1.573,60 per ons, menandai minggu ketujuh berturut-turut mengalami kerugian.
Penguatan dolar AS didukung oleh data inflasi terbaru. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), indikator inflasi favorit The Fed, naik 4,1% YoY pada Mei, menjadi level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun dan pertama kali melampaui 4% sejak 2023. Data ini meningkatkan ekspektasi bahwa Fed mungkin perlu mengetatkan kebijakan lebih lanjut untuk menahan inflasi, sehingga memberikan tekanan tambahan ke harga emas.
Pasar saat ini memperkirakan peluang 63% bahwa Fed akan menaikkan suku bunga pada September. Kenaikan suku bunga biasanya menurunkan daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sehingga kombinasi dolar yang kuat dan ekspektasi suku bunga yang tinggi terus menekan harga emas.
Dengan kondisi ini, investor disarankan untuk tetap memantau pergerakan harga, sentimen pasar, dan rilis data ekonomi mendatang, karena setiap perubahan dapat memicu volatilitas yang signifikan bagi emas dan logam mulia lainnya.(Asd)*
Sumber: Newsmaker.id