Oil Tertekan Optimisme Damai AS-Iran
Harga minyak turun lebih dari 3% pada perdagangan Jumat (26/6) dan masih berada di jalur pelemahan mingguan ketiga berturut-turut. Tekanan muncul karena lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz mulai membaik, sementara optimisme terhadap kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran masih lebih dominan dibandingkan kekhawatiran baru setelah serangan terhadap kapal kargo dekat Oman.
Brent untuk pengiriman Agustus turun 3,4% ke level US$72,70 per barel pada sesi Eropa. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI melemah 3,5% ke level US$69,40 per barel. Sepanjang pekan ini, kedua kontrak minyak utama tersebut berada di jalur penurunan sekitar 9%, memperpanjang tekanan yang dimulai setelah kesepakatan awal AS-Iran pekan lalu.
Harga minyak kini telah menghapus sebagian besar kenaikan yang terjadi sejak awal konflik Iran. Sebelumnya, harga sempat melonjak tajam ketika risiko perang mencapai puncaknya dan pasar khawatir pasokan dari Timur Tengah akan terganggu. Namun, setelah pembicaraan damai mulai berjalan dan jalur Hormuz kembali dibuka, premi risiko perang mulai keluar dari harga minyak.
Pada sesi sebelumnya, Brent dan WTI sempat naik lebih dari 2% setelah sebuah proyektil menghantam kapal kargo yang melintas di dekat Selat Hormuz. Insiden itu kembali memicu kekhawatiran atas keamanan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Serangan tersebut juga mendorong International Maritime Organization atau IMO menangguhkan upaya fasilitasi jalur aman bagi kapal dan awak di kawasan tersebut.
Pejabat Amerika Serikat kemudian menyebut Iran telah menembaki kapal tersebut, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai ketahanan kesepakatan damai awal antara Washington dan Teheran. Namun, pasar tampaknya masih lebih fokus pada fakta bahwa arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz meningkat ke level tertinggi sejak konflik dimulai.
Analis ING mengingatkan bahwa sebagian besar peningkatan arus kapal saat ini berasal dari kapal-kapal yang sebelumnya tertahan di Teluk Persia. Karena itu, pasar masih berpotensi melihat penurunan arus pengiriman setelah kapal-kapal tertahan tersebut selesai keluar dari kawasan. Artinya, normalisasi pasokan belum tentu berjalan mulus dan stabil dalam jangka pendek.
Meski begitu, sentimen utama pasar masih condong bearish. Brent telah turun jauh dari puncaknya di atas US$90 per barel pada awal bulan, karena trader semakin yakin bahwa kesepakatan AS-Iran yang lebih luas dapat memulihkan arus minyak dari kawasan Teluk. Jika lalu lintas Hormuz terus membaik dan tidak ada eskalasi baru, tekanan terhadap harga minyak masih berpeluang berlanjut.
Namun, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Serangan kapal dekat Oman menunjukkan bahwa keamanan jalur Hormuz masih rapuh, dan gangguan baru dapat kembali mengangkat premi risiko minyak. Dengan kondisi tersebut, arah harga oil dalam jangka pendek masih akan ditentukan oleh dua faktor utama: kecepatan normalisasi arus Hormuz dan keberlanjutan kesepakatan damai AS-Iran.(arl)
Sumber: Newsmaker.id