Minyak Turun, Pasar Waspada
Harga minyak melemah setelah reli empat hari karena investor menunggu sinyal yang lebih jelas soal pasokan, sambil mencermati dampak di pasar yang lebih luas dari langkah Presiden AS Donald Trump untuk mencopot seorang gubernur The Fed. Pada perdagangan terakhir, Brent turun mendekati $67/barel, sementara WTI berada di bawah $65.
Dari sisi kebijakan, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menerbitkan rancangan pemberitahuan untuk melipatgandakan tarif atas seluruh impor India mulai Rabu sebagai sanksi atas pembelian minyak Rusia. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendorong kesepakatan damai Rusia–Ukraina. Di saat yang sama, Trump mengisyaratkan tarif tambahan dan sanksi bila negosiasi tak bergerak maju, sementara pemerintah India mengecam “tarif sekunder” itu sebagai tidak adil.
Di pasar yang lebih luas, saham dan aset berisiko melemah seiring kekhawatiran atas independensi bank sentral setelah isu pemecatan Lisa Cook, tepat ketika data menunjukkan tanda-tanda pelemahan ekonomi termasuk pasar tenaga kerja. Sepanjang Agustus, harga minyak bergerak dalam rentang sempit karena pelaku pasar menimbang efek bea masuk AS serta konsekuensi jangka panjang dari serangkaian kenaikan pasokan OPEC+. IEA sebelumnya memperingatkan risiko surplus rekor tahun depan seiring melambatnya pertumbuhan permintaan sementara pasokan terus membengkak.
Menurut Robert Rennie dari Westpac, bila tarif India benar digandakan, pasar akan kembali mempertanyakan arus minyak Rusia dan berpotensi menguji ulang area $70 dalam jangka pendek. Pasar juga menyoroti serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia yang menambah ketidakpastian pasokan. Terakhir, Brent kontrak Oktober turun 0,5% ke $68,49/barel (pukul 11.37 siang, Singapura), sedangkan WTI Oktober melemah 0,5% ke $64,47/barel.(ayu)
Sumber: Newsmaker.id