Minyak Stabil Menjelang Pertemuan Trump-Putin
Harga minyak stabil pada Kamis(14/8) saat investor menimbang potensi dampak pertemuan AS-Rusia pada Jumat terhadap pasokan minyak Rusia, setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan “konsekuensi serius” bagi Rusia jika tidak setuju untuk perdamaian.
Brent crude naik 35 sen atau 0,53% menjadi $65,98 per barel pada pukul 09.57 GMT.
West Texas Intermediate (WTI) naik 35 sen atau 0,56% menjadi $63,00 per barel.
Kedua kontrak sempat menyentuh level terendah dua bulan pada Rabu setelah panduan suplai yang bearish dari pemerintah AS dan Badan Energi Internasional (IEA).
Trump pada Rabu mengancam “konsekuensi serius” jika Putin tidak menyetujui perdamaian di Ukraina, termasuk kemungkinan sanksi ekonomi. Ia juga memperingatkan akan mengenakan tarif sekunder pada pembeli minyak Rusia, terutama China dan India, jika perang di Ukraina berlanjut.
Rystad Energy menyebut bahwa ketidakpastian perundingan AS-Rusia menambah risiko harga naik karena pembeli minyak Rusia bisa menghadapi tekanan ekonomi lebih besar. “Bagaimana krisis Ukraina-Rusia terselesaikan dan perubahan aliran minyak Rusia bisa membawa kejutan tak terduga,” kata Rystad.
Namun, beberapa analis skeptis bahwa Trump akan mengambil langkah yang benar-benar mengganggu pasokan minyak. John Evans dari PVM mengatakan, “Setiap kebijakan yang membuat harga minyak naik, seperti tarif sekunder, justru bisa menjadi bumerang bagi administrasi ini.”
Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve AS pada September juga mendukung harga minyak. Suku bunga lebih rendah dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan permintaan minyak. Saat ini hampir semua trader memperkirakan pemangkasan suku bunga akan terjadi, setelah inflasi AS meningkat secara moderat pada Juli.
Sekretaris Treasury Scott Bessent menyebut pemangkasan agresif setengah poin mungkin dilakukan, mengingat data pekerjaan yang lemah baru-baru ini.
Harga minyak sedikit tertekan pada Rabu karena persediaan minyak AS naik tak terduga sebanyak 3 juta barel untuk pekan yang berakhir 8 Agustus, menurut data dari Badan Informasi Energi AS (EIA). (az)
Sumber: Investing.com