Brent Panas, Hormuz Jadi Pemicu Utama
Harga minyak Brent bergerak menguat pada perdagangan hari ini, dengan posisi terbaru berada di sekitar US$78,445 per barel. Kenaikan ini terjadi saat pasar energi kembali masuk mode waspada akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, terutama setelah gencatan senjata kedua negara disebut semakin rapuh.
Dari sisi fundamental, faktor terbesar yang mendorong Brent adalah risiko gangguan pasokan dari Selat Hormuz. Harga minyak sempat melonjak setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan dengan Iran sudah “berakhir” dan membuka peluang serangan tambahan. Brent bahkan sempat mendekati area US$80 per barel karena pelaku pasar khawatir jalur utama perdagangan energi dunia terganggu.
Ketegangan makin kuat setelah AS mencabut izin yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak secara global. Langkah ini menambah kekhawatiran bahwa pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah bisa kembali terganggu. Pasar juga mencermati ancaman Iran yang dapat menutup Selat Hormuz jika serangan AS berlanjut, karena jalur ini sangat penting bagi pengiriman minyak dan gas dunia.
Namun, kenaikan Brent tidak sepenuhnya bebas tekanan. Data EIA menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 3 juta barel pada pekan yang berakhir 3 Juli, menjadi 411,4 juta barel. Kenaikan stok ini biasanya menjadi sentimen negatif karena menunjukkan pasokan domestik AS bertambah. Meski begitu, stok bensin dan distilat justru turun, sehingga tekanan dari data persediaan masih tertahan.
Dari sisi makro, harga minyak yang tinggi juga kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi. Risalah The Fed menunjukkan pejabat bank sentral masih khawatir terhadap tekanan harga dan sebagian melihat adanya alasan untuk menaikkan suku bunga jika inflasi tidak membaik. Artinya, lonjakan minyak tidak hanya berdampak ke pasar energi, tetapi juga bisa memengaruhi ekspektasi suku bunga, dolar AS, dan sentimen pasar global.
Secara teknikal, Brent saat ini masih berada dalam bias bullish selama mampu bertahan di atas area support US$77,50–US$76,80 per barel. Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas US$79,30, peluang menuju US$80,00–US$81,50 masih terbuka. Sebaliknya, jika Brent gagal bertahan di atas US$77,50, harga berisiko terkoreksi ke US$76,00 bahkan US$74,80. Untuk saat ini, arah Brent masih cenderung menguat terbatas, tetapi tetap sangat sensitif terhadap kabar terbaru dari Iran, Selat Hormuz, dan sikap The Fed.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id