• Thu, Jul 9, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

9 July 2026 07:39  |

Brent Panas, Hormuz Jadi Pemicu Utama

Harga minyak Brent bergerak menguat pada perdagangan hari ini, dengan posisi terbaru berada di sekitar US$78,445 per barel. Kenaikan ini terjadi saat pasar energi kembali masuk mode waspada akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, terutama setelah gencatan senjata kedua negara disebut semakin rapuh.

Dari sisi fundamental, faktor terbesar yang mendorong Brent adalah risiko gangguan pasokan dari Selat Hormuz. Harga minyak sempat melonjak setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan dengan Iran sudah “berakhir” dan membuka peluang serangan tambahan. Brent bahkan sempat mendekati area US$80 per barel karena pelaku pasar khawatir jalur utama perdagangan energi dunia terganggu.

Ketegangan makin kuat setelah AS mencabut izin yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak secara global. Langkah ini menambah kekhawatiran bahwa pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah bisa kembali terganggu. Pasar juga mencermati ancaman Iran yang dapat menutup Selat Hormuz jika serangan AS berlanjut, karena jalur ini sangat penting bagi pengiriman minyak dan gas dunia.

Namun, kenaikan Brent tidak sepenuhnya bebas tekanan. Data EIA menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 3 juta barel pada pekan yang berakhir 3 Juli, menjadi 411,4 juta barel. Kenaikan stok ini biasanya menjadi sentimen negatif karena menunjukkan pasokan domestik AS bertambah. Meski begitu, stok bensin dan distilat justru turun, sehingga tekanan dari data persediaan masih tertahan.

Dari sisi makro, harga minyak yang tinggi juga kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi. Risalah The Fed menunjukkan pejabat bank sentral masih khawatir terhadap tekanan harga dan sebagian melihat adanya alasan untuk menaikkan suku bunga jika inflasi tidak membaik. Artinya, lonjakan minyak tidak hanya berdampak ke pasar energi, tetapi juga bisa memengaruhi ekspektasi suku bunga, dolar AS, dan sentimen pasar global.

Secara teknikal, Brent saat ini masih berada dalam bias bullish selama mampu bertahan di atas area support US$77,50–US$76,80 per barel. Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas US$79,30, peluang menuju US$80,00–US$81,50 masih terbuka. Sebaliknya, jika Brent gagal bertahan di atas US$77,50, harga berisiko terkoreksi ke US$76,00 bahkan US$74,80. Untuk saat ini, arah Brent masih cenderung menguat terbatas, tetapi tetap sangat sensitif terhadap kabar terbaru dari Iran, Selat Hormuz, dan sikap The Fed.(asd)*

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Minyak Melonjak, Serangan Rudal Iran ke Israel Uji Gencatan ...

Harga minyak menguat tajam pada Senin setelah Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal ke arah Israel, meningkatkan kekhawat...

8 June 2026 07:33
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai