Minyak Menuju Koreksi Besar, Hormuz Masih Jadi Penentu
Harga minyak bergerak menuju penurunan kuartalan terbesar sejak pandemi COVID-19 pada awal 2020. Pasar masih mencermati potensi pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Doha, di tengah gencatan senjata sementara yang masih rapuh setelah perang berlangsung selama empat bulan.
Kontrak minyak Brent Agustus, yang berakhir pada Selasa, naik 0,22% atau 16 sen ke level US$73,31 per barel pada pukul 12.01 GMT. Namun, kontrak tersebut masih berada di jalur penurunan bulanan ketiga secara beruntun, dengan koreksi sekitar 20% sepanjang Juni. Sementara itu, kontrak September yang lebih aktif diperdagangkan naik 0,61% atau 45 sen ke US$74,36 per barel.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Agustus juga naik 0,52% atau 37 sen ke level US$71,12 per barel. Meski demikian, WTI masih turun sekitar 19% sepanjang Juni dan menuju pelemahan bulanan kedua berturut-turut. Sepanjang kuartal ini, Brent telah melemah sekitar 38%, sedangkan WTI turun sekitar 29%, dengan kedua harga kini mendekati level sebelum perang.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai pasar belum sepenuhnya menghapus premi risiko. Namun, kapal-kapal yang sebelumnya tertahan kini mulai kembali tersedia seiring meningkatnya jumlah kapal yang keluar dari kawasan Teluk. Kondisi ini menciptakan tambahan pasokan sementara yang ikut menekan harga minyak.
Dari sisi prospek pasokan, Morgan Stanley memperkirakan pasar minyak global dapat mengalami surplus sebesar 4,8 juta barel per hari pada 2027. Perkiraan ini menambah tekanan terhadap harga minyak, terutama setelah pembukaan kembali Selat Hormuz meredakan kekhawatiran atas gangguan pasokan berkepanjangan.
Sementara itu, pejabat Qatar menyatakan bahwa utusan AS yang telah tiba di Doha tidak akan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Iran. Sebaliknya, pembicaraan teknis akan dilakukan pekan ini, termasuk membahas isu keamanan regional yang nantinya dapat ditingkatkan ke level senior.
Ketidakpastian mengenai kelanjutan pembicaraan tersebut menunjukkan rapuhnya kesepakatan 17 Juni untuk menghentikan pertempuran. Konflik sebelumnya telah mengganggu aliran minyak global melalui Selat Hormuz dan menjadi tantangan politik bagi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilihan kongres November mendatang.
Di sisi lain, jajak pendapat Reuters menunjukkan para analis mulai memangkas proyeksi harga minyak 2026 untuk pertama kalinya sejak perang Iran dimulai. Pemangkasan ini terjadi setelah pembukaan kembali Selat Hormuz mengurangi kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan yang berkepanjangan.
Sementara itu, SOMO Irak menawarkan diskon besar pada harga jual resmi minyaknya untuk mendorong pembeli jangka panjang mengambil minyak mentah Basrah dari terminal di kawasan Teluk Timur Tengah pada Juli. Langkah ini semakin memperkuat sinyal bahwa tekanan pasokan masih menjadi perhatian utama di pasar minyak.(gn)
Sumber: Newsmaker.id