Minyak Stabil Dekat Terendahnya Tiga Bulan, Kesepakatan AS-Iran Dinilai Tingkatkan Pasokan
Harga minyak bertahan dekat level terendah tiga bulan pada perdagangan hari ini seiring ekspektasi bahwa kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz akan meningkatkan pasokan global.
Minyak Brent diperdagangkan di atas US$79 per barel setelah turun sekitar 15% dalam empat hari terakhir, mengalami penurunan terpanjang tahun ini. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$76 per barel. Kesepakatan sementara yang dijadwalkan ditandatangani pada hari Jumat ini memberikan insentif finansial luas bagi Teheran, termasuk hak untuk langsung menjual minyaknya.
Meski persiapan penandatanganan sedang berlangsung, pelaku pasar energi masih skeptis seberapa cepat Selat Hormuz dapat kembali dibuka. Harga minyak telah merosot tajam dalam beberapa pekan terakhir karena prospek akhir perang antara Washington dan Teheran dipandang akan mengurangi ketatnya pasokan global. Para produsen, pengirim, dan pedagang kini menilai apakah kesepakatan ini akan bertahan lama dan berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi kapal-kapal untuk kembali melintasi jalur strategis tersebut.
“Sebagian besar pedagang percaya operasi angkatan laut AS kemungkinan akan mengawal kapal-kapal selama beberapa minggu pertama, dan kapal penyapu ranjau juga akan hadir, yang akan memperlambat arus lalu lintas,” kata Dennis Kissler, senior vice president di BOK Financial Securities Inc.
Draf kesepakatan berisi 14 poin yang memberikan gambaran paling jelas tentang rencana ini, termasuk kewajiban Teheran untuk memastikan pergerakan kapal komersial dan komitmen AS untuk mengakhiri blokade terhadap Hormuz. Selat ini menghubungkan Teluk Persia ke Samudra Hindia dan membawa sekitar seperlima pasokan minyak global sebelum perang pecah.
Harga Brent untuk kontrak Agustus tercatat stabil di US$79,08 per barel pukul 10:20 pagi waktu Singapura, sementara WTI untuk kontrak Juli naik 0,2% ke US$76,21 per barel. Penurunan harga minyak mentah juga telah menekan harga produk energi, meredakan tekanan inflasi dan beban konsumen. Di AS, rata-rata harga bensin nasional turun mendekati US$4 per galon setelah sempat menembus US$4,56 pada Mei.
Meski pasokan diperkirakan kembali meningkat, stok minyak mentah AS masih turun dengan cepat. Data dari kelompok industri menunjukkan penurunan sekitar 8,3 juta barel pekan lalu, termasuk penurunan besar di hub Cushing, Oklahoma. Data resmi dijadwalkan rilis pada Rabu nanti.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id