Harga Minyak Stabil Ditengah Eskalasi AS-Iran
Minyak dunia bergerak stagnan pada perdagangan Rabu (10/6/2026), meski bentrokan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran menimbulkan kekhawatiran pasar. Brent untuk kontrak Agustus tercatat di level $91,40 per barel, sementara WTI Amerika stabil di $88,19 per barel. Keduanya sempat naik tipis pada perdagangan Asia setelah serangan baru-baru ini di Timur Tengah.
Perdagangan sebelumnya, minyak sempat turun sekitar 3%, menyentuh level terendah tujuh minggu terakhir. Investor tampak berhati-hati menanggapi eskalasi militer, mengingat guncangan terhadap pasokan minyak global masih bersifat sementara. Menurut analis Vital Knowledge, pergerakan harga yang relatif tenang menunjukkan pasar menilai bentrokan ini sebagai “bump in the road toward peace” dan bukan gangguan besar.
Iran menembakkan serangan ke pangkalan militer AS di Yordania dan beberapa negara Teluk sebagai balasan atas serangan AS terhadap fasilitas Iran, menyusul insiden helikopter Apache. Sementara itu, Israel melanjutkan serangan di Lebanon Selatan menargetkan militan Hizbullah yang didukung Iran. Eskalasi ini berpotensi merusak kemajuan negosiasi perdamaian yang sebelumnya telah disepakati setelah tekanan dari Presiden Donald Trump.
Meskipun begitu, pasar tampak lebih fokus pada prospek kesepakatan damai AS-Iran yang bisa membuka kembali Selat Hormuz. Jalur strategis ini menjadi kunci bagi sekitar 20% pasokan minyak global yang terhenti sejak konflik pecah. Sentimen investor masih ditopang oleh harapan bahwa gencatan senjata dan negosiasi damai akan tetap berlaku.
Analisis Newsmaker: Dengan Brent yang saat ini bergerak di level $92, pasar masih menunjukkan volatilitas rendah meski ketegangan tinggi. Fundamental menunjukkan permintaan global tetap kuat, sementara suplai melalui Teluk tersendat. Oleh karena itu, Brent berpotensi bergerak fluktuatif antara $90–$94 dalam beberapa sesi mendatang, tergantung perkembangan gencatan senjata dan keputusan militer di kawasan.(yds)
Sumber: newsmaker.id