Minyak Terkoreksi, Sekutu AS Siap Bahas Pemulihan Hormuz
Harga minyak terkoreksi pada Jumat (17/4) ketika pasar menilai peluang de-eskalasi meningkat, menyusul sinyal kemungkinan pembicaraan lanjutan AS–Iran pada akhir pekan dan gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel. Brent turun 3,11% menjadi US$96,30/barel pada 09.42 GMT, sementara WTI merosot 4,23% ke US$90,68/barel.
Meski jatuh harian, pergerakan pekanan masih terbelah: Brent berada di jalur naik 1,2% untuk sepekan, sedangkan WTI menuju turun 6% dibanding penutupan Jumat lalu. Harga juga sudah kembali di bawah US$100/barel, tetapi tetap bertahan di atas US$90 setelah reli kuat pada Maret yang mencapai sekitar 50%.
Pelaku pasar menilai diskon geopolitik mulai terbentuk ketika Washington dan Teheran tampak menurunkan ambisi kesepakatan: dua sumber Iran kepada Reuters menyebut negosiator kini mengejar memorandum sementara untuk mencegah konflik berulang, bukan paket damai komprehensif. Presiden Donald Trump juga menyinggung titik sengketa utama perang, dengan mengatakan Teheran menawarkan komitmen tidak memiliki senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun.
Namun jalan menuju kesepakatan masih rapuh. Kampanye Israel di Lebanon tetap disebut sebagai hambatan besar bagi upaya perdamaian yang didorong Trump. Di sisi lain, Prancis dan Inggris pada Jumat akan memimpin pertemuan sekitar 40 negara untuk memberi sinyal bahwa sekutu AS siap berperan memulihkan arus melalui Selat Hormuz ketika kondisi memungkinkan.
Bagi pasar energi, narasi utama tetap sama: semakin kredibel peluang pembicaraan dan stabilitas gencatan senjata, semakin cepat premi risiko bisa luruh dari harga minyak. Sebaliknya, setiap kemunduran diplomasi atau gangguan pada Hormuz berpotensi mengembalikan volatilitas. Pasar kini memantau hasil pembicaraan akhir pekan, ketahanan ceasefire Lebanon–Israel, dan perkembangan langkah koordinasi internasional terkait pemulihan arus di Hormuz.(Arl)*
Sumber: Newsmaker.id