Minyak Turun, Pasar Waspadai Risiko Selat Hormuz
Harga minyak turun pada perdagangan awal hari ini karena gencatan senjata bersyarat antara Israel dan Lebanon memberikan harapan akan kesepakatan perdamaian AS-Iran, meskipun bentrokan sporadis terus berlanjut. Brent berjangka diperdagangkan turun 2,2% di $95,85 per barel, menutup kenaikan tiga hari sebelumnya, sementara WTI berada di $90,32 per barel di sesi Eropa dengan volume tipis.
Meski ada optimisme, negosiasi perdamaian sementara antara Washington dan Teheran tampak stagnan. Iran menekankan bahwa perjanjian dengan AS terkait Selat Hormuz membutuhkan gencatan senjata yang efektif di Lebanon. Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali “segera” jika Iran menandatangani nota kesepahaman dan beberapa area dibersihkan dari ranjau, meski ancaman terhadap pelayaran komersial tetap ada.
Pasokan minyak global tetap ketat. Data AS menunjukkan persediaan minyak mentah di Cushing, Oklahoma, turun untuk minggu keenam berturut-turut, mendekati tingkat operasi minimum. Para analis memperingatkan bahwa Brent berpotensi naik hingga $130 per barel pada kuartal keempat jika pengetatan pasokan berlanjut.
Sentimen pasar tercermin dari volatilitas harga: harga naik awal pekan karena cadangan global menyusut, kemudian terkoreksi setelah laporan gencatan senjata. Ole Sloth Hansen dari Saxo Bank menyebutkan bahwa trader “enggan mempertahankan posisi beli di tengah ekspektasi lonjakan pasokan dari kapal-kapal yang siap berlayar,” menunjukkan kekhawatiran risiko geopolitik masih tinggi.
Pasar kini tetap fokus pada Selat Hormuz, yang biasanya menyalurkan seperlima dari pasokan minyak mentah global. Penutupan hampir total jalur ini sejak perang dimulai mendorong harga energi lebih tinggi dan menimbulkan kekhawatiran inflasi serta perlambatan ekonomi. Harga minyak tetap sensitif terhadap perkembangan diplomatik di Timur Tengah dan langkah-langkah militer yang bisa mengganggu pasokan.(gn)*
Sumber: Newsmaker.id