Minyak Bervolatil Ditengah Reaksi Pernyataan Trump Terkait Iran
Harga minyak bergerak volatile pada perdagangan Selasa (31/3) karena para pedagang menganalisis pernyataan Presiden Donald Trump yang dilaporkan mengenai akhir dari perang Iran. Trump mengatakan kepada stafnya bahwa ia bersedia menghentikan operasi militer AS terhadap Iran meskipun Selat Hormuz tetap tertutup, karena memaksa Teheran untuk membuka kembali chokepoint minyak tersebut dapat memperpanjang konflik, menurut laporan The Wall Street Journal.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei turun 0,5% menjadi $102,3 per barel, sementara kontrak berjangka Brent naik 0,16% menjadi $112,9 per barel setelah menghapus penurunan sebelumnya.
Analis politik Matt Gertken menyebutkan bahwa ancaman serangan besar-besaran terhadap Iran rendah kemungkinannya, dengan Trump lebih memilih untuk “mundur dan menyelesaikan kesepakatan.” Meskipun demikian, Trump sebelumnya mengancam untuk meluaskan serangan ke infrastruktur energi sipil Iran jika Teheran gagal membuka kembali Selat Hormuz.
Perang Iran yang sudah memasuki minggu kelima ini menunjukkan peningkatan ketegangan. Iran meluncurkan serangan terhadap kapal tanker minyak Kuwait di kawasan pelabuhan Dubai, sementara Trump terus menyatakan bahwa negosiasi damai bisa tercapai, meskipun Iran menolak proposal yang diajukan AS. Namun, kondisi ini menciptakan ketidakpastian besar dalam alur perdagangan energi global, dengan risiko pasokan minyak yang lebih terbatas melalui Selat Hormuz yang menjadi titik strategis penting.
Penyebab: Ketegangan yang berlanjut antara AS, Israel, dan Iran terkait pengendalian Selat Hormuz dan potensi eskalasi dalam serangan militer AS terhadap Iran memperburuk ketidakpastian pasokan energi global.
Akibat: Harga minyak berfluktuasi tajam, meningkatkan kekhawatiran inflasi global, dan memperburuk ketidakpastian dalam ekonomi global.(yds)
Sumber: Newsmaker.id