Minyak Naik, Brent Menuju Rekor Lonjakan Bulanan
Harga minyak menguat pada perdagangan Senin (30/3), dengan Brent bertahan jauh di atas US$100 per barel, seiring pasar kembali menilai risiko gangguan pasokan setelah konflik AS-Israel dan Iran memasuki pekan kelima. Kenaikan dipicu eskalasi keamanan regional, termasuk keterlibatan langsung Houthi yang didukung Iran dari Yaman.
Brent kontrak Mei naik sekitar 2%–3% dan sempat diperdagangkan di kisaran US$115–US$116 per barel, sementara WTI berada di atas US$100 per barel. Secara bulanan, Brent tercatat melesat sekitar 59% sepanjang Maret, menempatkannya pada jalur kenaikan bulanan terbesar dalam catatan menurut laporan Reuters.
Ketegangan bertambah setelah Trump mengatakan kepada Financial Times bahwa opsi yang ia “sukai” di Iran adalah “mengambil minyaknya,” pernyataan yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko infrastruktur dan rute energi. Reuters juga melaporkan serangan Houthi terhadap Israel memperluas medan konflik, memperkuat premi risiko di jalur Teluk dan Red Sea.
Societe Generale menilai risiko gangguan tambahan pada Bab el-Mandeb—jalur penting yang menghubungkan Teluk Aden dan Laut Merah—dapat mendorong harga lebih tinggi bila eskalasi berlanjut, karena pasar akan menambah premi risiko pada biaya pengapalan dan ketersediaan barel fisik.
Penyebab: eskalasi perang Iran dan meluasnya serangan ke rute/infrastruktur energi regional, ditambah retorika Trump soal “mengambil minyak” yang memperbesar persepsi risiko pasokan.
Dampak: premi risiko minyak bertahan tinggi, volatilitas meningkat, dan tekanan inflasi berbasis energi berpotensi menggeser ekspektasi suku bunga global ke arah lebih ketat.(yds)
Sumber: Newsmaker.id