Dolar Dekati Puncak 10 Bulan di Tengah Eskalasi Timur Tengah
Dolar AS bertahan dekat level tertinggi 10 bulan pada Senin (30/3) dan menuju kenaikan bulanan terbesar sejak Juli, seiring sinyal yang berubah-ubah dari Iran dan Amerika Serikat meredupkan harapan berakhir cepatnya konflik di Timur Tengah.
Permintaan safe haven kembali menguat setelah perang membuat Selat Hormuz efektif tersendat—jalur yang menangani sekitar seperlima aliran minyak dan gas global—serta mendorong reli tajam Brent sepanjang Maret.
Indeks dolar (DXY) relatif datar di sekitar 100,19, setelah sempat menyentuh 100,54 pada pertengahan Maret, tertinggi sejak Mei 2025. Barclays menilai sentimen terhadap dolar mendekati level “max bullish” berdasarkan indikator tradisional seperti prospek pertumbuhan, diferensial suku bunga, dan ukuran beta pasar. Di sisi strategi, pelaku pasar menahan eksposur risiko dan mempertahankan lindung nilai volatilitas, sembari menunggu perkembangan konflik.
Di mata uang utama, euro bertahan di sekitar US$1,15 dan berada di jalur pelemahan sekitar 2,5% sepanjang Maret—penurunan bulanan terdalam sejak Juli—meski tekanan terbantu ekspektasi pasar bahwa ECB dapat bersikap lebih aktif. Pasar beralih dari skenario peluang pemangkasan sebelum konflik menjadi memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga ECB hingga akhir tahun, yang dinilai membatasi potensi penurunan EUR/USD.
Yen Jepang tetap berada di zona sensitif mendekati 160 per dolar. USD/JPY sempat menyentuh 160,47 (terlemah sejak Juli 2024) sebelum berbalik, terakhir di sekitar 159,65 saat otoritas Jepang meningkatkan ancaman intervensi dan memberi sinyal pelemahan lanjutan bisa menjadi alasan untuk kenaikan suku bunga lebih cepat. Yen tercatat turun lebih dari 2% sepanjang Maret di tengah kekhawatiran dampak harga minyak tinggi terhadap Jepang.
Di Asia-Pasifik, dolar Australia melemah ke US$0,6851 dan menuju penurunan bulanan sekitar 3,8% (terdalam sejak Desember 2024), sementara dolar Selandia Baru turun ke US$0,57275, melemah sekitar 4,4% sepanjang bulan. Pergerakan ini mencerminkan kombinasi tekanan risk-off, dampak harga energi, dan penyesuaian ekspektasi suku bunga global.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada rangkaian data tenaga kerja AS pekan ini. Investor menilai rilis jobs data dapat mengubah proyeksi jalur kebijakan Federal Reserve, terutama setelah laporan tenaga kerja Februari yang lemah dan sebulan penuh tekanan geopolitik yang berpotensi mengetatkan kondisi keuangan.(yds)
Sumber: newsmaker.id