Minyak Naik saat Iran Tinjau Proposal AS untuk Akhiri Perang
Harga minyak melonjak pada Kamis (26/3) di tengah sinyal yang masih saling bertolak belakang terkait potensi de-eskalasi konflik di Timur Tengah, sementara Iran dilaporkan sedang meninjau proposal dari Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.
Pada perdagangan pagi, kontrak Brent untuk pengiriman Mei yang menjadi acuan global naik 4,0% ke level US$106,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS juga menguat 3,7% ke US$93,66 per barel.
Pasar saat ini mencermati sinyal diplomatik yang masih belum pasti dari Teheran. Sejumlah pejabat disebut tengah mengevaluasi proposal yang didukung AS guna menghentikan permusuhan. Namun, Iran secara terbuka membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington dan menegaskan masih ada perbedaan besar yang belum terselesaikan. Ketidakjelasan ini membuat pelaku pasar tetap waspada.
Harga minyak sendiri bergerak sangat volatil dalam beberapa pekan terakhir karena konflik telah mengganggu arus energi dari kawasan Teluk Persia, wilayah yang sangat penting bagi pasokan minyak global. Brent bahkan sempat melonjak mendekati US$120 per barel pada awal bulan ini akibat kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan.
Selat Hormuz, jalur transit vital bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dunia, juga disebut secara efektif tertutup bagi lalu lintas kapal tanker karena ancaman serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama yang terus menopang harga minyak di level tinggi.
Pada Rabu sebelumnya, harga minyak sempat turun setelah muncul laporan mengenai peluang negosiasi antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik yang kini telah berlangsung hampir satu bulan. Namun, pasar kembali goyah setelah muncul sinyal campuran dari Washington. Sejumlah pejabat AS memperingatkan akan mengambil langkah lebih keras jika Iran tidak menunjukkan sikap konstruktif, sementara Presiden Donald Trump dikabarkan ingin melihat perang ini segera berakhir.
Yang menjadi perhatian besar saat ini, harga minyak masih bertahan jauh di atas level sebelum konflik pecah pada akhir Februari. Situasi tersebut memicu kekhawatiran akan lonjakan tekanan inflasi global, yang berpotensi mendorong bank-bank sentral kembali mempertimbangkan kenaikan suku bunga.
Analis menilai, jika gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama, dampaknya terhadap aktivitas ekonomi global bisa jauh lebih besar, mirip dengan tekanan yang terjadi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Kondisi itu juga berisiko memicu siklus pengetatan moneter yang lebih luas di berbagai negara.(yds)
Sumber: Newsmaker.id