Emas Menguat di Tengah Sinyal Diplomasi Timur Tengah
Harga emas menguat ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri perang di Timur Tengah serta turunnya harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi.
Penurunan minyak mengurangi tekanan inflasi energi yang belakangan membuat pasar menahan ekspektasi pemangkasan suku bunga dan mendorong dolar serta yield obligasi naik—kombinasi yang biasanya menekan logam mulia.
Emas berjangka New York tercatat naik 3,2% ke $4.542,70 per troy ounce. Perak ikut menguat 5,2% ke $73,18, sementara platinum naik 2,7% ke $1.943,80 per ounce. Kenaikan serempak ini mengindikasikan minat beli kembali pada logam mulia setelah tekanan beberapa sesi sebelumnya.
Analis Saxo Bank menilai aksi jual emas belakangan lebih banyak dipicu oleh tekanan likuiditas, bukan perubahan fundamental yang benar-benar membalik arah tren. Menurut mereka, harga minyak yang sempat tinggi dalam beberapa pekan terakhir menghidupkan kekhawatiran inflasi, meredupkan harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, sekaligus mengangkat yield dan dolar.
Saxo menambahkan, jika faktor-faktor tersebut mulai ternormalisasi sebagian—minyak melemah, tekanan inflasi mereda, dan dolar-yield melunak—maka tekanan terhadap emas berpotensi berkurang. Kondisi itu dapat membuat investor kembali fokus pada daya tarik jangka panjang emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian.
Inti Newsmaker: reli emas hari ini didorong oleh kombinasi minyak yang turun dan optimisme diplomasi yang meredakan narasi inflasi. Namun, arah lanjutan masih sangat bergantung pada stabilitas energi, perkembangan konflik, serta pergerakan dolar dan yield.(yds)
Sumber: Newsmaker.id