Brent Sentuh US$119, Serangan Energi Teluk Angkat Risiko Inflasi Global
Harga energi melonjak setelah gelombang serangan di Teluk Persia menyasar fasilitas LNG dan rantai pasokan minyak, memperbesar risiko gangguan yang lebih lama dari sekadar penutupan Selat Hormuz. Gas berjangka Eropa melonjak 35% (lebih dari dua kali lipat level pra-perang), Brent menyentuh US$119 per barel, dan diesel berjangka Eropa sempat mencapai US$190 per barel—menegaskan eskalasi kini langsung menekan input inflasi.
Pemicu utama datang dari kerusakan di Ras Laffan, Qatar—kompleks LNG terbesar di dunia—yang disebut mengalami “kerusakan luas” setelah serangan rudal, diikuti gangguan tambahan di kawasan: penghentian sementara pemuatan minyak di jalur barat Arab Saudi, penutupan fasilitas gas Habshan di Abu Dhabi akibat puing rudal, serta serangan drone yang memicu kebakaran di dua kilang Kuwait. Serangan ke Qatar dinilai meningkatkan risiko inflasi jangka panjang karena perbaikan fasilitas produksi bisa memakan waktu berbulan-bulan; dalam skenario terburuk, operasi Ras Laffan berpotensi terganggu hingga 2026.
Di sisi kebijakan, Presiden Donald Trump menyerukan de-eskalasi dan menyatakan Israel akan menahan diri dari serangan lanjutan ke South Pars, namun ia juga mengancam respons besar jika Iran kembali menargetkan aset Qatar. Iran menegaskan responsnya “sedang berlangsung dan belum selesai.” AS menyatakan akan mencari cara menambah pasokan, termasuk opsi mencabut sanksi atas minyak Iran yang sudah berada di tanker dan mempertimbangkan pelepasan cadangan darurat tambahan. Dengan Asia sebagai pembeli utama LNG Timur Tengah, gangguan berkepanjangan berisiko mengetatkan neraca pasokan global dan menjaga harga energi tinggi lebih lama.(alg)
Sumber: Newsmaker.id