Hormuz Memanas, Minyak Melonjak Tajam
Harga minyak acuan melesat tinggi pada Selasa (3/3) dan mencatat kenaikan sesi ketiga berturut-turut, ketika konflik AS–Israel dengan Iran meluas dan memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi di Timur Tengah.
Brent menguat sekitar 7,8% ke $83,79 per barel setelah sempat menyentuh $85,12, level tertinggi sejak Juli 2024. WTI naik sekitar 7,5% ke $76,54 setelah mencapai $77,58—dan sejak penutupan Jumat, reli kumulatif Brent dan WTI sudah menembus kisaran belasan persen.
Pasar terutama menambahkan premi risiko pada jalur pengiriman: insiden yang melibatkan tanker dan ancaman di Selat Hormuz mendorong kapal menghindari rute, setelah perlindungan asuransi di kawasan dicabut dan biaya pengiriman melonjak. Titik sempit ini krusial bagi arus minyak dan LNG global, sehingga setiap eskalasi cepat tercermin di harga.
Di sisi suplai, penutupan dan gangguan operasi di sejumlah fasilitas minyak dan gas regional memperbesar risiko “tightness” jangka pendek, sementara pasar juga mengerek harga produk olahan dan gas. Fokus pelaku pasar kini tertuju pada stabilitas pengapalan, status operasi fasilitas kunci, serta sinyal potensi eskalasi lanjutan—yang membuat bias harga tetap ke atas dalam beberapa hari ke depan. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id