Dolar Turun Tiga Pekan Beruntun, Optimisme Damai Iran Dorong Risk-On
Dolar AS melemah untuk pekan ketiga berturut-turut, sempat menghapus hampir seluruh penguatan sejak pecahnya perang Iran. Sentimen dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Iran setuju menangguhkan program nuklirnya tanpa batas waktu, serta pengumuman dari Teheran bahwa Selat Hormuz kembali dibuka, yang memperkuat ekspektasi pasar bahwa kesepakatan damai semakin dekat.
Harga minyak turun dan minat terhadap asset berisiko menguat setelah gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah di Lebanon meningkatkan peluang de-eskalasi yang lebih luas. Bloomberg Dollar Spot Index sempat turun hingga 0,6% ke level terendah sejak 27 Februari sebelum memangkas pelemahan menjadi kurang dari 0,1%. Secara kumulatif, indeks tersebut tercatat turun lebih dari 2% dalam tiga pekan terakhir.
Di pasar suku bunga, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun 7 basis poin ke 4,24%. Pricing OIS terkait The Fed kini memasukkan sekitar 15 bps potensi pelonggaran hingga pertemuan Desember, naik dari sekitar 8 bps pada penutupan Kamis, menambah tekanan pada dolar seiring ekspektasi suku bunga bergeser lebih dovish.
Pergerakan mata uang G-10 pada Jumat bervariasi. Yen Jepang dan franc Swiss mengungguli, sementara euro dan pound melemah. Dolar Australia sempat menguat hingga 0,7222 per dolar AS—tertinggi sejak Juni 2022—sebelum memangkas kenaikan. EUR/USD turun hari kedua ke 1,1769; pasangan ini sempat naik ke 1,1849 pada pagi hari di New York sebelum berbalik turun ke level terendah sesi pada sore hari.
Di Eropa, perbedaan sikap muncul terkait rencana misi pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan PM Inggris Keir Starmer menggelar pertemuan para pemimpin untuk membahas isu tersebut. EUR/GBP relatif stabil di 0,8706 di tengah tekanan politik domestik pada Starmer terkait penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk AS. USD/JPY turun 0,4% ke 158,57, sementara Gubernur BOJ Kazuo Ueda menekankan tantangan kebijakan akibat risiko inflasi dan risiko perlambatan ekonomi dari konflik Timur Tengah, tanpa memberi sinyal tegas arah suku bunga menjelang keputusan BOJ bulan ini.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id