Perang Memanas, Energi Jadi Target!
Harga minyak bertahan tinggi setelah reli tajam sebelumnya, seiring pelaku pasar bersiap menghadapi risiko serangan lanjutan di Timur Tengah dan ancaman penutupan penuh Selat Hormuz. Pada perdagangan terbaru, WTI berada di sekitar $70–$71 per barel, sementara Brent bertahan di area $77–$78 setelah lonjakan kuat pada sesi sebelumnya.
Sentimen pasar kembali tegang setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan melakukan “apa pun yang diperlukan” dalam konflik, sementara pejabat AS memberi sinyal kampanye dapat ditingkatkan. Media AS melaporkan Washington bersiap menaikkan intensitas serangan dalam 24 jam, menyusul penilaian bahwa gelombang awal telah melemahkan pertahanan Iran.
Dari pihak Iran, pernyataan keras terkait Selat Hormuz menambah kecemasan pasar. Jalur ini menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan porsi besar LNG. Risiko utama saat ini bukan hanya produksi, tetapi logistik pengapalan: lalu lintas tanker dilaporkan “nyaris berhenti” karena ancaman keamanan dan biaya risiko yang meningkat.
Dampak fisik ke infrastruktur energi juga mulai terlihat. Saudi Aramco dilaporkan melakukan penghentian sebagian operasi di kilang Ras Tanura setelah serangan drone, sementara Qatar menghentikan produksi LNG di Ras Laffan (fasilitas ekspor LNG terbesar) setelah serangan, memperluas gangguan dari minyak ke gas.
Gangguan ini merembet ke biaya pengiriman. Ongkos mengangkut minyak mentah dari Timur Tengah ke China melonjak ke rekor, menandakan pasar freight ikut mem-price-in risiko perang dan penghindaran rute. Kondisi ini berpotensi membuat biaya energi global tetap tinggi meski harga minyak spot sempat berfluktuasi.
Ke depan, pasar akan sangat ditentukan oleh dua hal: (1) apakah arus tanker lewat Hormuz bisa mulai normal, dan (2) apakah serangan terhadap infrastruktur energi meluas. Jika ketegangan bertahan, biaya energi berisiko menambah tekanan inflasi global—dan ini dapat mempersulit ruang gerak bank sentral, termasuk The Fed, di tengah kondisi ekonomi yang sudah sensitif.(asd)
Sumber: Newsmaker.id