• Tue, Mar 3, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

2 March 2026 07:24  |

Selat Hormuz “Macet”, Minyak Langsung Meledak

Harga minyak melonjak paling besar dalam empat tahun setelah konflik AS–Israel vs Iran membuat arus kapal tanker di Selat Hormuz kacau dan pasar global panik soal pasokan. Brent sempat terbang hingga 13% menembus US$82/barel (tertinggi sejak Januari 2025), sementara WTI menguat ke kisaran US$72/barel.

Masalahnya bukan cuma headline perang lalu lintas tanker lewat Hormuz banyak yang berhenti karena pemilik kapal, trader, dan asuransi memilih “pause” demi keamanan. Data pelayaran juga menunjukkan ratusan kapal memilih melempar jangkar di sekitar Teluk, menunggu situasi jelas.

Iran memang menyatakan jalur itu masih terbuka, tapi di saat yang sama ada laporan serangan terhadap beberapa tanker yang makin bikin pasar ketar-ketir. Di sisi lain, eskalasi serangan dan balasan di berbagai titik kawasan membuat risiko gangguan pengiriman makin nyata dan ini yang langsung diprice-in oleh market.

Di tengah kondisi itu, OPEC+ tetap menjalankan agenda rapat akhir pekan dan sepakat menaikkan kuota produksi bulan depan sebesar 206.000 barel per hari. Namun pasar menilai tambahan suplai ini tidak otomatis “menolong” kalau jalur pengiriman utamanya tetap tersendat.

Sejumlah analis memproyeksikan volatilitas bakal ekstrem dalam beberapa hari ke depan: ada yang melihat Brent bisa bertahan di US$80–90 dalam base case pekan ini, tapi risiko tail tetap besar kalau gangguan pengiriman berlarut. Bahkan ada perkiraan, jika arus tanker tidak cepat pulih, harga bisa terdorong menembus US$100/barel.

Kenaikan harga energi yang bertahan lama juga punya efek domino: inflasi global berpotensi naik lagi, bikin pekerjaan bank sentral (termasuk The Fed) makin rumit. Opsi darurat seperti pelepasan cadangan strategis AS (SPR) bisa ikut jadi perhatian pasar, tapi sentimen jangka pendek tetap “ngikutin” berita Hormuz dan eskalasi konflik.

Inti Poin :

- Brent sempat melonjak hingga 13% tembus US$82/barel, WTI naik ke kisaran US$72/barel.

- Arus tanker di Selat Hormuz terganggu/terhenti karena banyak pelaku memilih “pause” demi keamanan.

- Laporan serangan ke tanker menambah kepanikan pasar soal pasokan dan logistik pengiriman.

- OPEC+ tetap naikkan kuota 206.000 bph bulan depan, tapi efeknya terbatas bila jalur pengiriman macet.

- Jika gangguan Hormuz berlarut, risiko minyak menuju US$100/barel dan tekanan inflasi global meningkat.(asd)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Brent Turun Tipis, Risiko Hormuz Mengintai

Harga minyak terkoreksi tipis dalam perdagangan Asia yang sepi, saat pelaku pasar menunggu hasil pembicaraan AS–Iran di Jen...

17 February 2026 12:45
OIL

Brent Stabil, Risiko Hormuz Belum Hilang

Harga minyak bergerak stabil setelah Amerika Serikat dan Iran menyampaikan nada positif dalam pembicaraan terkait program nuk...

18 February 2026 15:41
BIAS23.com NM23 Ai