Brent Menguat, OPEC+ dan Iran Jadi Penentu
Harga Brent crude kembali menguat pada Jumat (27/2), bergerak ke area US$72 per barel setelah pasar kembali memasang “premi risiko” akibat ketidakpastian negosiasi nuklir AS–Iran. Pergerakan ini menandai pemulihan dari sesi sebelumnya, ketika harga sempat tertekan oleh harapan bahwa jalur diplomasi bisa meredakan ketegangan dalam waktu dekat.
Pasar menilai proses perundingan belum menghasilkan “deal” final. Putaran ketiga pembicaraan di Jenewa memang ditutup dengan sinyal kemajuan, namun mediator Oman menegaskan pembahasan akan dilanjutkan pekan depan di Wina pada level teknis. Format ini biasanya digunakan untuk membahas detail paling sensitif seperti parameter pengayaan, mekanisme verifikasi, dan skema pelonggaran sanksi—yang artinya, pasar masih harus bersiap menghadapi headline yang cepat berubah.
Di sisi risiko, isu pengayaan uranium tetap menjadi titik krusial. Setiap tanda kebuntuan atau potensi eskalasi dapat langsung mengangkat kekhawatiran terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah. Walau tidak ada gangguan fisik pasokan saat ini, trader cenderung menilai skenario terburuk—mulai dari pengetatan sanksi hingga peningkatan tensi—karena jalur pengapalan energi di kawasan tetap strategis bagi suplai global.
Di luar geopolitik, pelaku pasar juga menunggu keputusan OPEC+ terkait kebijakan suplai untuk April. Ada ekspektasi kenaikan produksi yang bersifat moderat, namun arah final masih sangat dipengaruhi dinamika risiko AS–Iran. Kombinasi dua faktor ini membuat Brent tetap “headline-driven”: menguat saat risiko memanas, namun rentan koreksi jika diplomasi terlihat mulus atau pasar kembali fokus ke sinyal oversupply.(Cp)
Sumber: Newsmaker.id