Negosiasi AS–Iran Lanjut Pekan Depan, Minyak Tetap Labil
Harga minyak bergerak fluktuatif seiring pelaku pasar mengkaji headline yang saling bertentangan terkait perkembangan pembicaraan nuklir AS–Iran. WTI turun tipis 0,3% namun tetap bertahan di atas $65/barel, sementara Brent menutup sesi di bawah $71/barel setelah kedua negara merampungkan putaran ketiga negosiasi di Jenewa—hanya beberapa hari sebelum tenggat waktu Presiden AS Donald Trump untuk mencapai kesepakatan.
Oman, yang berperan sebagai mediator, menyatakan pembicaraan akan dilanjutkan pekan depan di Wina pada level “teknis”, yang membantu meredakan kekhawatiran pasar tentang kemungkinan aksi militer AS dalam waktu dekat. Menjelang penutupan, tekanan bearish bertambah setelah Axios mengutip seorang pejabat AS yang menggambarkan arah pembicaraan sebagai sesuatu yang “positif”—nada optimistis yang juga disinggung Menlu Iran Abbas Araghchi dalam pernyataannya di televisi pemerintah.
Sebelumnya pada sesi yang sama, harga sempat menguat setelah media pemerintah Iran melaporkan Teheran tidak akan mengizinkan uranium yang diperkaya keluar dari negara itu. Isu pengayaan uranium tetap menjadi titik krusial bagi kedua pihak. Wall Street Journal melaporkan Washington meminta Teheran menyerahkan sisa bahan bakar nuklir ke AS. Jika sengketa ini gagal dijembatani, risiko eskalasi—termasuk potensi aksi militer—kembali membayangi Timur Tengah, wilayah yang menyumbang sekitar sepertiga pasokan minyak mentah dunia.
Di luar faktor geopolitik, pasar juga menghadapi sinyal fundamental yang lebih berat. Pada Kamis, indikator utama menunjukkan tanda oversupply pada Brent untuk pertama kalinya di luar hari kedaluwarsa kontrak sejak 2024. Selisih harga Brent–WTI melebar hingga sekitar $5,89/barel, menandakan kondisi pasar Laut Utara mulai melemah, meski fokus utama tetap tertuju pada hasil perundingan Jenewa.
Trump menyatakan lebih memilih solusi diplomatik atas program nuklir Iran, namun memperingatkan akan ada konsekuensi jika kesepakatan gagal tercapai. AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap lebih dari 30 entitas yang mendukung penjualan minyak dan senjata Iran, meningkatkan tekanan ke Teheran menjelang negosiasi. Pasar opsi, menurut sejumlah analis, mengindikasikan investor masih melakukan lindung nilai (hedging) untuk skenario hasil pembicaraan yang lebih menantang.
Di sisi suplai fisik, Arab Saudi dilaporkan berada di jalur untuk mengekspor minyak mentah paling besar dalam hampir tiga tahun bulan ini, sementara Iran dalam beberapa hari terakhir mempercepat pengisian tanker. Arus gabungan dari Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab juga meningkat. Pasar kini menunggu rapat OPEC+ pada Minggu yang akan menentukan kebijakan suplai April—sebagian delegasi memperkirakan kenaikan produksi moderat, namun prospek masih kabur karena risiko konflik AS–Iran menutupi arah keputusan.
Pada penutupan, WTI April turun 0,3% dan berakhir di $65,21/barel di New York. Brent April turun 0,1% dan berakhir di $70,75/barel.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id