Minyak Turun Ditengah Fokus Pembicaraan Jenewa
Harga minyak melemah tipis ketika para pelaku pasar memusatkan perhatian pada pembicaraan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa.
Di saat yang sama, sejumlah produsen utama di Timur Tengah justru meningkatkan ekspor, sementara kekhawatiran akan potensi konflik di kawasan tersebut menambah ketidakpastian terhadap pasokan ke depan.
Minyak Brent diperdagangkan di sekitar $70 per barel setelah turun dua hari beruntun, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran $65. AS dan Iran memulai putaran ketiga pembicaraan nuklir pada Kamis, dengan waktu yang semakin mepet menuju tenggat yang ditetapkan Presiden Donald Trump untuk mencapai kesepakatan. Iran memasuki pertemuan dengan menyatakan bahwa mereka memiliki tingkat fleksibilitas yang “masuk akal” dalam negosiasi.
Pergerakan minyak saat ini terjepit di antara sentimen bearish akibat ekspektasi luas akan terjadinya surplus pasokan global tahun ini, dan meningkatnya kekhawatiran geopolitik terkait Iran.
Pada Kamis, tanda-tanda pasar yang melunak makin terlihat setelah salah satu indikator utama di pasar berjangka Brent memberi sinyal kelebihan pasokan untuk pertama kalinya—di luar hari kedaluwarsa kontrak—sejak 2024. Sementara itu, indikator setara untuk bulan-bulan berikutnya masih berada dalam struktur backwardation yang bersifat bullish (harga kontrak bulan dekat lebih tinggi daripada bulan berikutnya).
“Surplus ini tampaknya sejauh ini lebih mengarah pada kelebihan pasokan yang ringan—bukan banjir pasokan yang benar-benar besar,” tulis analis Rabobank Joe DeLaura dan Florence Schmit dalam sebuah catatan. “Kami saat ini melihat peluang yang sangat tinggi bahwa AS akan menyerang Iran.”
Trump mengatakan ia lebih memilih solusi diplomatik terkait program nuklir Iran, tetapi memperingatkan akan ada konsekuensi jika tidak tercapai kesepakatan. AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap lebih dari 30 entitas yang dituduh mendukung penjualan minyak dan senjata Iran, sehingga meningkatkan tekanan terhadap Teheran menjelang pembicaraan.
Di tengah tensi yang terus membara di Timur Tengah, Arab Saudi diperkirakan akan mengekspor minyak mentah terbanyak dalam hampir tiga tahun pada bulan ini, sementara Iran dalam beberapa hari terakhir dilaporkan cepat mengisi tanker-tanker minyak. Arus ekspor gabungan dari Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab juga tercatat meningkat.
Pasar akan mencermati hasil pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan pada Minggu untuk menentukan kebijakan pasokan bulan April. Sejumlah delegasi memperkirakan kenaikan produksi secara moderat, namun seorang pejabat menyebut prospeknya masih belum jelas karena risiko konflik AS–Iran turut mengaburkan arah pasar.(yds)
Sumber: Bloomberg