Minyak Stabil Menanti Pembicaraan Nuklir AS–Iran
Harga minyak bergerak naik tipis di atas US$71 ketika para pelaku pasar menimbang peluang tercapainya kesepakatan nuklir antara AS dan Iran menjelang pembicaraan pada Kamis, sementara pengerahan besar-besaran kekuatan militer Amerika di Timur Tengah membuat pasar tetap tegang.
Minyak brent naik tipis setelah ditutup turun 1% pada sesi sebelumnya. Presiden Donald Trump mengklaim dalam pidato State of the Union bahwa Iran sedang berupaya membangun kembali program nuklirnya, menambah spekulasi bahwa ia sedang menyiapkan langkah militer.
“Preferensi saya adalah menyelesaikan masalah ini melalui diplomasi, tetapi satu hal yang pasti: saya tidak akan pernah membiarkan sponsor teror nomor satu di dunia—yang mereka jelas-jelas adalah—memiliki senjata nuklir,” kata Trump pada Selasa.
Dalam pidato State of the Union-nya, Presiden Donald Trump mengatakan Iran ingin membangun kembali ambisi nuklir yang “jahat”.
Putaran berikutnya pembicaraan nuklir antara AS dan Iran dijadwalkan berlangsung pada Kamis di Jenewa. Agenda ini akan disusul oleh pertemuan aliansi OPEC+ pada akhir pekan, di mana para delegasi mengatakan mereka memperkirakan kelompok tersebut akan menyetujui kenaikan produksi yang moderat.
Pasar minyak belakangan sensitif terhadap tajuk berita yang terkait potensi konflik. Kontrak berjangka sempat reli di awal tahun, meski ekspektasi luas menyebut pasokan yang membengkak berpotensi menekan harga. Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Direktur CIA memberi pengarahan kepada para pembuat kebijakan senior mengenai Iran pada Selasa, sementara pengerahan militer memicu spekulasi akan adanya serangan.
Iran secara konsisten menyatakan program atomnya bertujuan damai dan membantah sedang mengejar senjata nuklir. Dalam pidatonya di Kongres AS, Trump kembali mengulang pernyataan sebelumnya bahwa program nuklir rezim tersebut telah “dilenyapkan” dalam serangan pada Juni lalu yang menargetkan tiga fasilitas.
AS telah memerintahkan penumpukan militer terbesar di Timur Tengah sejak Perang Teluk kedua pada 2003, termasuk dua kapal induk. Amerika juga menambah aset lebih banyak lagi ke kawasan, dengan mengerahkan 12 jet tempur siluman F-22 ke Israel, menurut CNN yang mengutip seorang pejabat pertahanan.
Jika permusuhan meningkat, Teheran dapat membalas dengan mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui jalur laut. Kapal tanker yang mengangkut gas alam cair (LNG) juga melintasi jalur sempit yang memisahkan Iran dan Semenanjung Arab tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran memuat minyak ke kapal tanker dengan cepat, sebuah tanda potensial bahwa negara itu sedang bersiap jika terjadi serangan oleh AS.(yds)
Sumber: Bloomberg